BULETINENERGI.COM — Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga 31 Agustus 2026 mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari produk domestik bruto. Pendapatan negara baru mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65 persen dari target, sementara belanja negara terserap Rp2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari pagu.
Kementerian Keuangan memaparkan kinerja APBN per 31 Agustus 2026 dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (18/9/2026). Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut posisi fiskal negara masih dalam batas aman meski tekanan global meningkat.
Suahasil merinci keseimbangan primer tercatat positif dan defisit anggaran tetap terkendali. "Ini artinya memang perjalanan APBN-nya relatively on track," ujarnya dalam pemaparan tersebut.
Pendapatan Tumbuh, Belanja Kementerian Lembaga Menguat
Dari sisi penerimaan, Suahasil melaporkan penerimaan negara tumbuh 25,4 persen dan penerimaan pajak tumbuh 24,1 persen. Pertumbuhan itu disebutnya sangat sehat.
Kepabeanan dan cukai juga mencatat pertumbuhan positif. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) bergerak cukup baik, sementara belanja kementerian dan lembaga menjadi komponen belanja yang tumbuh paling kuat.
Realisasi pendapatan Rp2.055,6 triliun itu setara 65 persen dari target tahun ini. Adapun belanja negara Rp2.295,7 triliun baru menyerap 59,7 persen dari pagu anggaran.
The Fed Naikkan Suku Bunga, Modal Asing Mulai Kembali
Suahasil menyoroti dinamika global yang mempengaruhi antisipasi perekonomian Indonesia. Konflik di Timur Tengah masih berlanjut, sementara Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga dua hari sebelum pemaparan.
"Kalau kita rekap secara keseluruhan kondisi, pernyataan atau antisipasi dari banyak itu mengantisipasi suku bunga itu akan higher for longer karena Amerika baru menaikkan dia ke 5 persen," jelas Suahasil.
Di tengah situasi itu, arus modal masuk ke Indonesia mulai pulih. Akumulasi sepanjang 2026 hingga triwulan III mencapai Rp141,6 triliun.
Harga komoditas terpantau dinamis, mulai dari minyak brent, CPO, nikel, batu bara, emas, hingga tembaga. Menurut Suahasil, komoditas-komoditas itu punya efek langsung ke gerak transaksi dan ekonomi Indonesia.
Inflasi 3,19 Persen dan Sektor Riil yang Masih Tumbuh
Inflasi Indonesia pada akhir Agustus berada di angka 3,19 persen. Suahasil menyebut angka itu masih di dalam kisaran prediksi pemerintah, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen secara year on year.
Sektor riil dinilai tetap resilien, terutama dari aktivitas konsumsi masyarakat. Penjualan motor, mobil, semen, dan listrik masih tumbuh.
Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur mengikuti dinamika global. Suahasil menyebut konsumsi masyarakat masih sangat sehat meski ada tekanan dari luar.
Untuk asumsi dasar ekonomi makro 2026, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,45 persen. Nilai tukar rupiah melemah akibat faktor geopolitik, pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN) dipengaruhi dinamika global, dan harga minyak bergerak mengikuti rantai pasok.
Kementerian Keuangan menyatakan akan terus memantau posisi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Defisit yang masih di bawah 1 persen dari PDB memberi ruang fiskal untuk menjaga stabilitas hingga akhir tahun.