IHSG Tertekan Suku Bunga Fed, Kiwoom Soroti Risiko Outflow Asing

IHSG Tertekan Suku Bunga Fed, Kiwoom Soroti Risiko Outflow Asing

BULETINENERGI.COM — Kiwoom Sekuritas menilai kenaikan suku bunga acuan The Fed berpotensi mempercepat arus dana asing keluar dari pasar modal Indonesia. Kombinasi yield US Treasury yang menyentuh 5% dan penguatan dolar AS disebut menjadi pemicu utama tekanan terhadap IHSG dalam beberapa bulan ke depan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menyebut kombinasi kenaikan yield US Treasury hingga 5% dan suku bunga bank sentral AS dapat mempercepat terjadinya arus keluar dana asing. Namun, menurutnya, faktor penentu utama bukan hanya itu.

Kombinasi Faktor yang Perlu Dicermati

"Fed hike bisa mempercepat outflow, apalagi US10Y sudah sekitar 5%. Tapi yang paling menentukan tetap kombinasi US10Y, DXY, rupiah, yield SBN dan earnings domestik," kata Liza dalam risetnya, Kamis (17/9/2026).

Liza menyoroti level kritis yang perlu diperhatikan. Jika rupiah menembus Rp17.700 per dolar AS bersamaan dengan yield SUN10Y di atas 7,30%, tekanan terhadap Indonesia dinilai mulai masuk kategori serius.

Dalam rentang satu hingga tiga bulan ke depan, IHSG diprediksi masih bergerak volatil. Tekanan arus dana asing cenderung mixed-to-negative, dan bisa membesar jika The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Peluang Perbaikan dari Data Inflasi AS

Ada skenario sebaliknya yang bisa memperbaiki kondisi. Jika data inflasi AS menurun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan bisa ikut mereda.

Kondisi itu dinilai dapat memperbaiki arus dana asing yang masuk ke Indonesia. Pasar akan mencermati rilis data inflasi AS sebagai salah satu katalis penting dalam beberapa pekan mendatang.

Untuk Bank Indonesia, Liza memproyeksikan base case masih menahan suku bunga di level 5,75% dengan hawkish bias. Namun, peluang BI menaikkan 25 bps ke 6% akan meningkat jika rupiah menembus Rp17.700—Rp18.000 disertai outflow yang makin besar.

Level Kunci IHSG dan Kondisi Investor Domestik

IHSG diprediksi masih berada pada posisi solid selama bertahan di area 6.400—6.370. Jika terjadi breakdown disertai outflow asing, pelemahan dinilai dapat berlanjut hingga level 6.280—6.180.

Soal soliditas investor domestik, Liza menilai kondisinya saat ini jauh lebih baik dibanding periode sebelumnya. Hanya saja, likuiditas domestik belum tentu mampu menahan aksi jual investor asing di saham-saham berkapitalisasi jumbo.

"Jadi, likuiditas domestik membantu meredam tekanan, tapi belum tentu bisa menggantikan foreign flow secara penuh di indeks heavyweight," tegasnya.

Hingga perdagangan kemarin, pasar saham Indonesia mencatatkan net sell asing senilai Rp72,72 triliun secara year-to-date. Komposisi investor saat ini didominasi domestik dengan porsi 65%, sementara investor asing hanya 35%.

Pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi faktor eksternal dan domestik. Pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed, pergerakan rupiah, serta yield surat berharga negara sebagai penentu utama arus dana asing.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index