PLTS 100 GWp Mulai Dibangun, Investasinya Rp 1.140 Triliun

PLTS 100 GWp Mulai Dibangun, Investasinya Rp 1.140 Triliun

BULETINENERGI.COM — Program energi surya terbesar dalam sejarah Indonesia ini tidak berhenti pada pembangunan pembangkit. Pemerintah menargetkan terbentuknya ekosistem industri tenaga surya dari hulu ke hilir, mulai dari produksi panel hingga instalasi di lapangan.

Investasi Raksasa dan Proyeksi Penghematan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat proyek ini berpotensi menghemat belanja energi nasional hingga Rp 73,9 triliun setiap tahun. Emisi karbon yang bisa ditekan mencapai 140,16 juta ton CO2 per tahun.

Jika terealisasi penuh, 5,5 juta orang berpeluang terserap sebagai tenaga kerja, terutama dari pembangunan pabrik komponen surya dan proyek pemasangan di berbagai wilayah.

Nilai investasi Rp 1.140 triliun menjadikan program ini salah satu proyek infrastruktur energi termahal di Tanah Air. Dengan kebutuhan dana yang besar, pemerintah mengandalkan skema kemitraan swasta dan badan usaha untuk menutup celah pembiayaan.

Konstruksi Perdana 5,3 GWp di Enam Provinsi

Tahap awal pembangunan sudah dimulai. Akhir Agustus lalu, Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking untuk PLTS berkapasitas gabungan 5,3 GWp.

Proyek perdana ini tersebar di 14 lokasi di enam provinsi. Upacara utama digelar di Jembrana, Bali.

Menurut Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari, jaringan PLTS nantinya juga menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Energi surya diharapkan mendukung kegiatan produktif masyarakat di daerah-daerah tersebut.

"Akan tumbuh kebutuhan baru, investasi baru, pembukaan lapangan kerja baru, dan pada akhirnya, kekuatan ekonomi baru," ujar Qodari dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).

Bukan Sekadar Mengurangi Emisi

Qodari menegaskan program ini merupakan langkah nyata menuju kemandirian energi. Pemerintah tidak ingin berhenti pada wacana.

"Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak berhenti pada wacana tentang kemandirian energi. Kita mulai membangunnya secara nyata, bertahap, dan terukur," katanya.

Menurut Qodari, peralihan ke energi bersih tidak boleh hanya dinilai dari berkurangnya emisi. Manfaatnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat dan memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.

"Karena itu, pembangunan PLTS 100 Gigawatt Peak tidak akan berhenti pada pembangunan pembangkit listrik. Kita ingin membangun ekosistem energi surya nasional yang tumbuh dari hulu hingga hilir," ujarnya.

Dengan potensi matahari yang melimpah, ketergantungan pada energi fosil diharapkan menurun. Namun tantangan terbesar tetap ada pada pembiayaan dan penguasaan teknologi. Pemerintah perlu memastikan investasi sebesar ini berjalan seiring penguatan industri dalam negeri, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk impor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index