FFPM 2026: SKK Migas-IAFMI Perkuat Ketahanan Energi dari Hulu ke Hilir

FFPM 2026: SKK Migas-IAFMI Perkuat Ketahanan Energi dari Hulu ke Hilir

BULETINENERGI.COM — Pembukaan berlangsung di InterContinental Bandung, dihadiri jajaran SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama, hingga perusahaan penyedia teknologi. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman dalam pidato utamanya menegaskan bahwa ketahanan energi nasional tidak bisa ditawar, terutama di tengah dinamika geopolitik yang mempengaruhi rantai pasok migas global.

Mengapa Ketahanan Infrastruktur Jadi Prioritas

Tema tahun ini — “Securing Energy Supply Across Production Facilities and Infrastructure” — lahir dari kebutuhan mendesak. Industri migas nasional tengah mengejar peningkatan produksi dan percepatan proyek strategis, sementara fasilitas produksi yang andal menjadi penentu kesinambungan pasokan.

Luky A. Yusgiantoro, yang mewakili Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam pidato pembukaan, menyebut forum ini sebagai ajang tahunan strategis yang telah berjalan sejak 2018.

Tiga Panel Bahas dari Infrastruktur hingga Pasokan Gas Domestik

FFPM 2026 menghadirkan tiga sesi diskusi panel yang membedah rantai nilai migas secara berurutan. Panel pertama bertajuk “Building Resilient Energy Infrastructure through Project Execution and Asset Management”, membahas bagaimana pelaksanaan proyek dan pengelolaan aset bisa memperkuat ketahanan infrastruktur. Pembicaranya mencakup Fata Yunus (VP Drilling & Well Intervention Pertamina Hulu Energi), Alastair Anderson (VP Projects BP Asia Pacific & India Upstream), Anjar Priyambudi (VP Asset Integrity Management Pertamina Patra Niaga), dan Rudianto Rimbono (President Commissioner PT Energi Mega Persada). Moderator panel ini adalah Luky A. Yusgiantoro.

Panel kedua, “Integrated Energy Value Chain: Connecting Upstream to Downstream”, mencoba menjembatani sektor hulu dan hilir. Hadir Rikky Rahmat Firdaus (Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas), Satya Widya Yudha (Anggota Dewan Keamanan Energi), Patuan Alfon Simanjuntak (Sekretaris BPH Migas), dan Jaffee Arizon Suardin (Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina). Diskusi ini dipandu Widhyawan Prawiraatmadja.

Panel ketiga menyoroti keamanan pasokan gas domestik lewat tema “Sustainable Energy Transition for Domestic Gas Security”. Pembicaranya antara lain Kuniaki Uno (Presiden Direktur PT Diamond Gas Management Indonesia), Mohammad Rasyid Ridha (Group Head Engineering and Technology PGN), Aulia Arif Hidayat (VP Operations SEARAH Ketapang), dan Agus Purnomo (General Manager Proyek Gas PLN EPI). Moderatornya Daniel S. Purba.

Sinergi Hulu-Hilir dan Kerja Sama Baru

Ketua FFPM 2026, Irfan Eka Wardhana, menegaskan bahwa forum ini dirancang untuk memecah sekat-sekat operasional antara hulu dan hilir. “Dinamika industri migas saat ini menuntut kita untuk memecah sekat-sekat operasional. FFPM 2026 secara khusus dirancang untuk menjembatani sinergi hulu dan hilir guna memastikan ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembahasan mencakup keandalan fasilitas, efisiensi operasional, integrasi rantai pasok, pengelolaan persediaan bersama, serta optimalisasi infrastruktur penyimpanan yang terintegrasi. Dalam kesempatan ini, IAFMI juga menandatangani kerja sama dengan Octave, Sucofindo, dan Universitas Diponegoro untuk memperkuat ekosistem fasilitas produksi nasional.

Ketua IAFMI Luky A. Yusgiantoro mengingatkan bahwa FFPM telah menjadi wadah dialog praktisi industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan sejak 2018, dengan dukungan penuh SKK Migas.

Penutup: Di tengah transisi energi global, peran fasilitas produksi migas yang andal tidak hanya soal operasional, melainkan juga jaminan pasokan untuk industri dan rumah tangga Indonesia. Forum ini menjadi titik tolak koordinasi teknis yang diharapkan berujung pada percepatan proyek dan penguatan infrastruktur migas nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index