BULETINENERGI.COM — Selisih harga bahan bakar minyak antara Indonesia dan Malaysia kembali melebar. Kementerian Keuangan Malaysia mengumumkan penurunan harga eceran untuk bensin RON95, RON97, dan diesel non-subsidi berlaku mulai 3 September, sementara PT Pertamina Patra Niaga di saat bersamaan menaikkan tarif produk non-subsidi di Tanah Air.
Keputusan Malaysia ini memutus rangkaian kenaikan yang terjadi selama dua minggu berturut-turut sebelumnya. Kementerian Keuangan Malaysia menyebut penurunan tersebut sebagai respons atas pergerakan harga minyak mentah global yang lebih rendah selama mayoritas periode penetapan harga menggunakan skema Automatic Pricing Mechanism (APM).
Rincian Harga BBM Malaysia Terbaru
Formula APM yang diperkenalkan Malaysia sejak 1983 memang menyesuaikan harga secara berkala dengan fluktuasi pasar. Pada periode 3–9 September, seluruh produk non-subsidi turun 5 sen per liter dari pekan sebelumnya.
- Bensin RON95 non-subsidi: 3,77 ringgit per liter (sekitar Rp 16.497)
- Bensin RON97: 4,25 ringgit per liter (sekitar Rp 18.597)
- Diesel non-subsidi: 4,67 ringgit per liter (sekitar Rp 20.435)
Meski menurun, Kementerian Keuangan Malaysia memperingatkan pasar produk minyak olahan global masih mengalami pengetatan pasokan. Gangguan arus minyak melalui Selat Hormuz, berkurangnya kapasitas kilang di beberapa negara, dan pembatasan ekspor bahan bakar disebut sebagai pemicu utama.
"Faktor-faktor ini diperkirakan akan terus menyebabkan volatilitas harga dalam waktu dekat," demikian pernyataan resmi Kementerian Keuangan Malaysia, sembari mengimbau pengendara untuk bijak memakai bahan bakar dan menghindari perjalanan yang tidak perlu.
Kondisi Berbeda di Indonesia: Pertamina Naikkan Tarif
Pada pekan yang sama, Pertamina menyesuaikan harga BBM non-subsidi untuk produk retail. Kenaikan paling signifikan terjadi pada Dexlite yang melonjak dari Rp 19.700 menjadi Rp 23.700 per liter—atau naik Rp 4.000. Pertamina Dex juga mengalami penyesuaian dari Rp 21.150 menjadi Rp 25.200 per liter.
- Pertamax Green 95: naik dari Rp 16.600 menjadi Rp 19.150 per liter
- Pertamax Turbo (RON 98): naik dari Rp 18.300 menjadi Rp 19.600 per liter
- Dexlite: naik dari Rp 19.700 menjadi Rp 23.700 per liter
- Pertamina Dex: naik dari Rp 21.150 menjadi Rp 25.200 per liter
Perlu dicatat, bahan bakar diesel di Malaysia yang disubsidi pemerintah tetap dijual jauh lebih murah, hanya sekitar 2,15 ringgit per liter untuk kalangan tertentu. Bandingkan dengan harga dex series Pertamina yang kini menembus Rp 23 ribu–25 ribu.
Mengapa Harga BBM Non-Subsidi RI Sangat Diminati?
Meski harganya lebih tinggi, segmen BBM non-subsidi di Indonesia tetap punya basis pengguna sendiri. Konsumen yang membeli Pertamax Turbo atau Dexlite umumnya pemilik mobil modern berteknologi injeksi langsung yang mengandalkan oktan dan cetane tinggi. Sensitivitas mereka terhadap perubahan harga memang lebih rendah dibanding pengguna kendaraan bermesin sederhana.
Lonjakan harga di Indonesia kali ini membuat selisih dengan Malaysia kian terasa—sekitar Rp 2 ribu untuk RON 97 dan Rp 3 ribu untuk diesel. Musababnya memang berbeda: Malaysia memakai mekanisme APM berbasis harga minyak dunia, sementara Pertamina mengikuti formula yang mempertimbangkan MOPS (Mean of Platts Singapore) serta nilai tukar rupiah.
Dengan volatilitas global yang masih tinggi akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, arah harga pekan depan masih sulit diprediksi. Bagi pemilik kendaraan di Indonesia yang mengandalkan BBM non-subsidi, tak ada pilihan lain selain menyesuaikan biaya operasional. Di Malaysia, pengendara setidaknya masih bisa berharap APM bekerja dua arah: tidak hanya menaikkan, tapi juga menurunkan harga saat pasar mereda.