RI Target Tambah Pembangkit 69,5 GW di Tengah Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center

RI Target Tambah Pembangkit 69,5 GW di Tengah Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center

BULETINENERGI.COM — Pemerintah telah mematok target besar untuk membangun pembangkit listrik baru hingga 2034. Mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), tambahan kapasitas mencapai 69,5 GW. Dari angka itu, sebanyak 42,6 GW dipasok dari pembangkit energi terbarukan seperti surya, air, dan angin.

Sisanya sekitar 10,3 GW dialokasikan untuk sistem penyimpanan energi alias baterai skala besar. Infrastruktur ini dipandang krusial untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil, mengingat sifat energi terbarukan yang bergantung pada cuaca.

Data Center Butuh Listrik Andal 24 Jam

Kebutuhan infrastruktur digital tumbuh pesat. Kapasitas data center di Indonesia telah mencapai sekitar 370 megawatt (MW) pada tahun ini. Setiap server yang beroperasi nonstop menuntut pasokan listrik yang andal dan berkualitas.

Karena itu, sektor kelistrikan, baterai, dan digital kini saling terhubung dalam satu ekosistem. Konektivitas inilah yang coba dipertemukan dalam IEE Series - Energy Week 2026 yang berlangsung pada 2-5 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara ini menggabungkan tiga pameran sekaligus: Electric & Power Indonesia, The Battery Show Indonesia, dan Data Center Asia–Indonesia.

Sebanyak 451 perusahaan dari 28 negara ambil bagian dalam pameran seluas lebih dari 20.000 meter persegi ini. Ada pula 21 sesi seminar yang melibatkan 73 pakar dan dukungan dari 12 asosiasi industri.

Sistem Listrik Cerdas Buat Industri Lebih Efisien

Deputy Event Director Pamerindo Indonesia, Maxmilaan Bruinier, menilai penyelenggaraan di Jakarta menjadi tindak lanjut kesuksesan gelaran serupa di Surabaya yang mempertemukan lebih dari 200 peserta dari 17 negara.

"Capaian di Surabaya menunjukkan kuatnya kebutuhan industri terhadap platform yang dapat mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dan membuka ruang kolaborasi lintas sektor," ujarnya, Rabu (2/9/2026).

Di sisi lain, kebutuhan listrik industri tak lagi sekadar soal volume. Ketua Umum Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI), Arsyadany G. Akmalaputri, mengatakan kebutuhan listrik industri ke depan akan semakin beragam dan dinamis.

"Karena itu, pengembangan sistem kelistrikan perlu bergerak menuju sistem yang lebih cerdas, fleksibel, dan mampu mengintegrasikan berbagai sumber energi secara andal," katanya dalam symposium yang digelar bersamaan dengan pembukaan pameran.

Pengembangan jaringan listrik cerdas atau smart grid dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat ketahanan sistem kelistrikan. Ini penting agar pasokan listrik tidak menjadi penghambat produktivitas pabrik maupun operasional pusat data.

Pemasok Solusi Listrik Incar Sektor Data Center

Peluang bisnis dari integrasi sektor ini sudah mulai dimanfaatkan pelaku industri. RMA Indonesia, salah satu peserta pameran, membidik segmen data center selain pasar tradisional seperti perhotelan dan resort. Perusahaan itu memperkenalkan solusi pembangkit listrik yang dirancang untuk kebutuhan berbagai sektor tersebut.

Arsyadany menambahkan, pengembangan energi tidak semata-mata soal produksi dan distribusi listrik. Ini berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, penyedia teknologi, akademisi, hingga pengguna akhir menjadi kata kunci agar target 69,5 GW itu bisa terwujud tepat waktu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index