JAKARTA - Anak-anak yang aktif berolahraga sejak dini tidak mesti difokuskan pada satu jenis cabang spesifik saja. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dr. Andhika Raspati, Sp.KO mengimbau agar anak sebelum menginjak masa pubertas diberikan ruang untuk menjajal bermacam jenis olahraga.
Berdasarkan penuturan Andhika, anak yang usianya di bawah 12 tahun, termasuk golongan balita, idealnya tidak dijejali dengan pola latihan terkhusus. Pada rentang umur tersebut, kegiatan fisik cukup disesuaikan berdasarkan fase tumbuh kembang mereka.
Bagi anak berumur satu sampai enam tahun, Andhika menyampaikan bahwa aktivitas fisik tidak perlu diwujudkan lewat latihan formal layaknya berikhtiar di gym atau berpartisipasi dalam perlombaan lari. “Olahraganya adalah bermain,” kata Andhika dalam diskusi media dengan Novo Nordisk Indonesia bertajuk Hidup Lebih Ringan, Bergerak Lebih Bebas: Jaga Berat Badan, Lindungi Lutut dari Osteoarthritis di Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026).
Dia memisalkan ragam permainan yang mengandalkan aktivitas fisik, seperti ajang kejar-kejaran maupun permainan daerah. Kegiatan semacam ini menjaga anak tetap aktif sekaligus membuka kesempatan untuk mengolah ketangkasan fisiknya secara alami.
Saat menginjak usia lebih dari 6 tahun, anak sudah boleh diarahkan pada kegiatan olahraga terstruktur jikalau mereka memperlihatkan ketertarikan. Walau demikian, Andhika berpesan supaya porsi latihannya tidak difokuskan secara berlebih demi mengejar target prestasi semata.
“Kami punya konsep yang namanya multilateral development,” ujar Andhika. Formula ini mengutamakan pengayaan berbagai kecakapan kinestetik melalui kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi beraneka macam gerak tubuh.
Maka dari itu, anak tak semestinya cuma melakukan olahraga sepak bola, basket, ataupun bulu tangkis secara rutin sejak amat dini. Dirinya berpandangan, kian beraneka ragam variasi gerak yang dirasakan anak, kian luas pula rentang keahlian motorik yang bisa ditumbuhkan.
Keterampilan gerak ini kelak diharapkan menjadi modal penting supaya mereka tetap gemar beraktivitas fisik hingga tumbuh dewasa. Pendekatan ini turut menjaga agar kegiatan berolahraga pada masa kecil tidak melulu dipatok demi mengincar kemenangan.
Andhika turut menghubungkannya dengan habit keaktifan fisik jangka panjang, termasuk sebagai bentuk pencegahan terhadap masalah obesitas serta osteoarthritis (OA) atau radang sendi. Di samping urusan spesialisasi, ekspektasi tinggi dari pihak orang tua juga perlu mendapat perhatian serius.
Andhika mengamati masih ada orang tua yang terlalu berambisi melihat buah hatinya lekas menyabet gelar juara di cabang olahraga tertentu. Padahal, porsi latihan berlebihan atau tuntutan mencetak prestasi sejak kecil justru berisiko membuat anak gampang terkena cedera serta mengalami burnout.
Oleh sebab itu, menurut pandangan Andhika, rutinitas berolahraga semestinya dijalani anak dengan suasana yang menyenangkan. “Jangan terlalu ambis,” kata Andhika.
Ia berpesan kepada para orang tua agar tidak kelewat batas dalam mendesak anak meraih capaian olahraga. Ditambah lagi, Andhika menyoroti pentingnya memberi ruang eksplorasi bagi anak tanpa adanya beban yang menghimpit.
“Anaknya harus enjoy,” ucapnya.
Andhika juga menganggap bahwa orang tua memegang peran vital dalam menanamkan pola hidup aktif pada anak. Sebabnya, anak kerap meneladani kebiasaan figur dewasa di sekitarnya, sehingga dorongan berolahraga akan berimbas lebih kuat apabila orang tua turut memperlihatkan kebiasaan aktif sehari-hari.
Lantaran hal tersebut, porsi olahraga sewaktu kecil tidak sepatutnya cuma diukur melalui perolehan medali atau piala semata. Melapangkan kesempatan bagi anak untuk bermain, mencoba beragam cabang olahraga, serta menikmati tiap prosesnya merupakan fondasi utama dalam memupuk ketangkasan gerak dan kebiasaan aktif hingga dewasa.