Gitaris Guns N' Roses Diabadikan Jadi Nama Spesies Ular Baru di Papua Nugini

Gitaris Guns N' Roses Diabadikan Jadi Nama Spesies Ular Baru di Papua Nugini

BULETINENERGI.COM — Kabar unik datang dari dunia sains. Para peneliti dari Field Museum di Chicago, Amerika Serikat, baru saja mempublikasikan penemuan spesies ular baru di jurnal Zootaxa. Reptil berwarna cokelat kemerahan dengan panjang sekitar 71 sentimeter ini kini secara resmi dikenal sebagai Slash's groundsnake.

Penamaan ini bukan tanpa alasan. Slash dikenal sebagai pencinta reptil seumur hidup dan pendukung aktif kebun binatang serta museum. Kecintaannya pada ular bahkan sudah terlihat sejak lama, termasuk saat ia membentuk grup rock Slash's Snakepit pada 1994.

Berawal dari Majalah Reptil di Usia 12 Tahun

Kisah di balik penamaan ini bermula dari masa kecil Sara Ruane, associate curator herpetologi di Field Museum yang menjadi penulis senior penelitian tersebut. Ketertarikannya pada reptil sudah muncul sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

Saat berusia 12 tahun, Ruane mendapatkan sebuah majalah reptil yang menampilkan Slash di sampulnya. Dalam foto itu, sang gitaris terlihat sedang memegang ular piton retikulasi peliharaannya. Momen itu membekas di ingatannya.

"Saya berpikir, saya ingin sekali menamai seekor ular dengan nama Slash. Saya pikir itu akan sangat menyenangkan," kenang Ruane. Bertahun-tahun kemudian, keinginan masa kecilnya itu akhirnya terwujud.

Apresiasi Sang Gitaris

Slash sendiri mengaku merasa terhormat dengan penamaan tersebut. Dalam pernyataan resmi Field Museum, ia menyampaikan apresiasinya.

"Saya merasa sangat terhormat dan rendah hati karena Lielaphis slashi dari New Guinea diberi nama berdasarkan nama saya. Ini benar-benar sangat menyenangkan. Saya tidak pernah membayangkan momen seperti ini akan datang," ujar Slash.

Ruane bahkan sempat menemani Slash berkeliling Field Museum saat sang gitaris berkunjung ke Chicago. Ia mengaku kagum dengan pengetahuan Slash soal dinosaurus dan sejarah alam.

"Jika dia bukan gitaris yang luar biasa, berdasarkan percakapan saya dengannya, saya akan mengatakan dia bisa menjadi ilmuwan yang luar biasa," tutur Ruane.

Perjalanan Panjang Penemuan Spesies

Perlu diketahui, spesies ular ini sebenarnya pertama kali ditemukan pada 2006 oleh Chris Austin, profesor sekaligus kurator herpetologi di Museum of Natural Science Louisiana State University, saat melakukan penelitian lapangan di Papua Nugini.

Meneliti ular di kawasan tersebut bukan perkara mudah. Hutan lebat Papua Nugini menjadi medan yang menantang bagi para ilmuwan. Para peneliti juga harus ekstra hati-hati karena sejumlah spesies ular berbisa di kawasan itu memiliki penampilan yang mirip dengan ular yang tidak berbahaya.

Pulau Nugini sendiri dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. Kawasan yang secara politik terbagi antara Indonesia dan Papua Nugini ini masih menyimpan banyak spesies yang belum teridentifikasi oleh dunia sains.

Soal hak penamaan, aturan internasional memang memberikan keleluasaan bagi penemu pertama. Sesuai International Code of Zoological Nomenclature (ICZN), peneliti yang pertama kali mendeskripsikan spesies baru secara ilmiah berhak penuh memilih nama, baik berdasarkan lokasi, ciri fisik, maupun tokoh idola—selama memenuhi kaidah ilmiah yang berlaku.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index