JAKARTA - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) atau Adira Finance mencatatkan realisasi penyaluran pembiayaan untuk mobil baru senilai Rp4 triliun sepanjang semester I 2026.
Chief Financial Officer (CFO) Adira Finance Sylvanus Gani mengutarakan bahwa pencapaian tersebut menunjukkan pergerakan positif dengan menyumbang porsi sekitar 17 persen dari total akumulasi pembiayaan perseroan.
Guna terus mengoptimalkan potensi pasar mobil baru, Adira Finance memperkuat jaringan kerja sama dengan kalangan dealer maupun mitra strategis, serta menyediakan skema pembiayaan yang fleksibel bagi konsumen.
“Di saat yang sama, pertumbuhan pembiayaan akan tetap dilakukan secara selektif melalui proses underwriting yang prudent,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (5/8/2026).
Selain itu, lanjut Gani, Adira Finance secara konsisten mempertajam efektivitas penagihan dan pengawasan mutu portofolio melalui penguatan tim collection serta strategi penanganan khusus yang disesuaikan kondisi nasabah.
Lebih jauh, Gani mengungkapkan bahwa memasuki separuh kedua tahun 2026, manajemen mulai mengantisipasi kemungkinan melambatnya laju pertumbuhan akibat bayang-bayang tantangan ekonomi makro.
“Beberapa faktor yang perlu dicermati antara lain tekanan nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga yang masih tinggi, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih,” bebernya.
Kondisi tersebut, imbuhnya, berpotensi menaikkan beban kepemilikan kendaraan sehingga mendorong calon pembeli untuk menahan atau menunda transaksi.
Pada kesempatan terpisah, praktisi pembiayaan Jodjana Jody menilai pertumbuhan pasar mobil baru semester I 2026 terdorong oleh penguatan segmen komersial pick up hingga 51 persen dan truk 39 persen secara wholesales berkat dampak proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
“Sedangkan untuk mobil penumpang, 4x2 dan elektrifikasi seperti hybrid dan BEV juga tumbuh positif, didorong oleh banyaknya model baru. Sementara itu, mobil first user seperti LCGC cukup tergerus sampai minus 18,4%,” katanya kepada Bisnis, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, dinamika ini mengindikasikan pasar yang belum sepenuhnya stabil dan bakal menghadapi tantangan berat pada semester II 2026 seiring kenaikan suku bunga kredit serta pembengkakan NPF industri pembiayaan di atas 3 persen per Mei 2026.