BNI Raih Laba Bersih Rp10,8 Triliun Pada Semester I 2026 Naik 6,33 Persen

BNI Raih Laba Bersih Rp10,8 Triliun Pada Semester I 2026 Naik 6,33 Persen
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang BNI.

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih konsolidasian senilai Rp10,80 triliun sepanjang semester I/2026. Realisasi ini naik 6,33 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibanding capaian periode sama tahun sebelumnya yang berada di level Rp10,16 triliun.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan perseroan, lonjakan laba periode ini disokong oleh perolehan pendapatan bunga yang menembus Rp38,63 triliun, atau menguat 14,92 persen YoY dari Rp33,61 triliun pada kurun yang sama tahun lalu.

Di saat bersamaan, beban bunga perseroan turut meningkat 15,94 persen YoY menjadi Rp16,34 triliun. Alhasil, BNI mencatatkan perolehan pendapatan bunga bersih senilai Rp22,28 triliun, atau menanjak 14,19 persen YoY dari posisi semester I/2025 yang senilai Rp19,51 triliun.

Kontribusi dari pendapatan komisi beserta pendapatan lainnya turut memperkuat raihan laba BNI sepanjang paruh pertama 2026.

Hingga Juni 2026, bank berlogo 46 tersebut meraup pendapatan komisi Rp5,50 triliun, tumbuh 13,51 persen YoY dari kurun yang sama tahun lalu sebesar Rp4,84 triliun. Pendapatan lainnya ikut merangkak naik 8,70 persen YoY menjadi Rp3,08 triliun dari semula Rp2,83 triliun.

Di sisi lain, beban operasional selain bunga bersih BNI mengalami pembengkakan 26,77 persen YoY menjadi Rp9,49 triliun. Kenaikan pos biaya operasional non-bunga ini salah satunya dipicu lonjakan impairment sebesar 36,17 persen YoY mencapai Rp5,05 triliun dari sebelumnya Rp3,71 triliun.

Kendati demikian, perseroan berhasil meraih laba operasional sebesar Rp13,11 triliun, atau terangkat 6,02 persen YoY dari periode sama tahun sebelumnya yang senilai Rp12,37 triliun.

Sementara untuk pos non-operasional, BNI memikul rugi sebesar Rp43,95 triliun, membaik dibanding semester I/2025 yang sempat mencatatkan rugi Rp53,89 triliun.

Dari sisi fungsi intermediasi, perseroan tercatat telah menyalurkan total kredit sebesar Rp968,53 triliun, atau melompat 24,38 persen YoY bila dibandingkan dengan perolehan semester I/2025 yang mencapai Rp778,68 triliun.

Mengenai penghimpunan dana, akumulasi dana pihak ketiga (DPK) yang dikumpulkan BNI menembus Rp1.100,18 triliun, atau tumbuh 22,26 persen YoY dari porsi semester I/2025 sebesar Rp899,86 triliun.

Laju DPK pada periode ini digerakkan oleh instrumen simpanan deposito yang melonjak 50,70 persen YoY menjadi Rp380,22 triliun. Simpanan giro dan tabungan turut mencatatkan kenaikan masing-masing 12,32 persen YoY dan 9,56 persen YoY menjadi Rp428,64 triliun serta Rp291,32 triliun per Juni 2026.

Atas pencapaian tersebut, nilai total aset konsolidasian perseroan terkerek naik 21,58 persen YoY menjadi Rp1.461,00 triliun hingga akhir Juni 2026.

Seiring dengan akselerasi bisnis, kualitas portofolio aset BNI konsisten menunjukkan daya tahan yang baik. Hingga akhir Juni 2026, rasio kredit berisiko (loan at risk/LAR) membaik dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen, sedangkan rasio non-performing loan (NPL) bertahan di level 1,9 persen.

Adapun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BNI mengalami penyusutan menjadi 3,55 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya 3,83 persen. Sementara itu, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) naik dari 71,36 persen pada semester I/2025 menjadi 73,11 persen pada semester I/2026.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengutarakan bahwa penguatan profitabilitas ini membuktikan kontribusi bisnis inti BNI yang makin solid dan seimbang.

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” kata Paolo dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index