Penyebab Stres Membuat Seseorang Jadi Mudah Lupa Secara Ilmiah

Penyebab Stres Membuat Seseorang Jadi Mudah Lupa Secara Ilmiah
Ilustrasi Mudah Lupa.

JAKARTA - Pernah lupa tempat meletakkan ponsel, sulit mengingat nama seseorang yang baru dikenalkan, atau mendadak kehilangan fokus saat mengerjakan tugas? Meski sering dianggap sebagai akibat kelelahan, kondisi tersebut juga bisa dipicu oleh stres.

Stres tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga cara otak memproses informasi. Saat tubuh berada di bawah tekanan, kemampuan untuk berkonsentrasi, mengingat, hingga mengambil keputusan dapat menurun.

Jika stres berlangsung dalam waktu lama, dampaknya bahkan bisa memengaruhi kesehatan otak.

Saat menghadapi tekanan, tubuh akan mengaktifkan respons fight or flight, yaitu mekanisme alami yang membantu seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengancam. Dalam proses ini, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.

Respons tersebut sebenarnya bermanfaat dalam jangka pendek karena membuat tubuh lebih waspada. Namun, ketika kadar hormon stres tetap tinggi dalam waktu lama, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan otak untuk berkonsentrasi dan mengingat informasi.

Alih-alih memprioritaskan proses belajar atau menyimpan ingatan baru, otak lebih fokus pada upaya menghadapi sumber tekanan. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah terdistraksi dan sulit menyerap informasi.

Salah satu penyebab utama gangguan memori saat stres adalah meningkatnya kadar kortisol. Paparan stres berkepanjangan dapat memengaruhi hipokampus, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori.

Ketika hipokampus terganggu, kemampuan untuk membentuk ingatan baru maupun mengingat informasi yang telah dipelajari menjadi kurang optimal.

Inilah alasan mengapa seseorang yang sedang mengalami stres sering merasa kehilangan fokus, sulit mengingat sesuatu, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami informasi.

Tekanan yang terus-menerus juga dapat mengganggu fungsi kognitif, yaitu kemampuan otak untuk memproses informasi. Fungsi ini mencakup berkonsentrasi, mempertahankan fokus, merencanakan pekerjaan, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta memahami informasi kompleks.

Perubahan hormon, tekanan darah, aktivitas neurotransmiter, hingga meningkatnya peradangan akibat stres dapat membuat seseorang lebih cepat lelah dan sulit berpikir jernih.

Saat pikiran dipenuhi berbagai tekanan, kapasitas otak untuk menyimpan informasi baru menjadi terbatas. Akibatnya, seseorang mungkin mengalami hal-hal seperti lupa meletakkan barang, melewatkan agenda, sulit mengingat isi percakapan, serta kesulitan menyelesaikan pekerjaan.

Kondisi tersebut bukan berarti kemampuan mengingat hilang, melainkan karena sumber daya otak sedang banyak digunakan untuk merespons stres.

Dampak stres terhadap otak dapat dikurangi dengan menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan fisik dan mental. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain tidur yang cukup, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, melakukan latihan pernapasan, serta menyusun prioritas pekerjaan.

Selain itu, menghindari multitasking dan melatih pola pikir yang lebih realistis juga dapat membantu menurunkan tingkat stres.

Jika stres mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau menyebabkan gangguan konsentrasi berkepanjangan, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat demi menjaga fungsi otak tetap optimal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index