JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, buku mewarnai untuk orang dewasa semakin populer sebagai salah satu cara melepas penat setelah menjalani rutinitas padat. Banyak orang memilih mengisi pola gambar menggunakan pensil warna atau spidol karena dianggap mampu membuat pikiran lebih rileks.
Kini, anggapan tersebut mulai didukung oleh sejumlah penelitian ilmiah. Salah satunya adalah studi yang diterbitkan dalam jurnal Animal Models and Experimental Medicine.
Penelitian tersebut menemukan bahwa terapi mewarnai berpotensi membantu mengurangi kecemasan sekaligus meningkatkan suasana hati pada pasien dengan Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau gangguan kecemasan menyeluruh.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa aktivitas mewarnai bukanlah pengganti pengobatan atau psikoterapi. Sebaliknya, kegiatan ini dapat menjadi terapi pendamping untuk mendukung penanganan gangguan kecemasan.
Penelitian melibatkan 88 orang dewasa berusia 18 hingga 65 tahun yang telah didiagnosis mengalami GAD. Seluruh peserta mendapatkan terapi standar sesuai kondisi masing-masing, namun sebagian peserta juga mengikuti terapi mewarnai selama tiga minggu.
Dalam sesi tersebut, mereka diminta mewarnai pola-pola tertentu menggunakan berbagai pilihan warna sebagai bagian dari intervensi yang telah dirancang peneliti.
Selama penelitian berlangsung, peneliti mengukur tingkat kecemasan, depresi, serta emosi positif dan negatif menggunakan instrumen psikologis yang telah tervalidasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang mengikuti terapi mewarnai mengalami penurunan gejala kecemasan dan depresi yang lebih besar dibandingkan kelompok yang hanya menjalani terapi standar. Selain itu, mereka juga melaporkan peningkatan emosi positif setelah program selesai.
Temuan ini menunjukkan bahwa terapi mewarnai berpotensi menjadi pelengkap dalam penanganan gangguan kecemasan, meski masih diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar untuk memperkuat hasil tersebut.
Menurut peneliti, mewarnai melibatkan perhatian penuh pada aktivitas yang sedang dilakukan. Saat memilih warna, mengikuti pola gambar, dan menggerakkan tangan secara berulang, perhatian seseorang beralih dari pikiran yang dipenuhi kekhawatiran menuju tugas yang ada di hadapannya.
Proses tersebut memiliki kemiripan dengan konsep mindfulness, yaitu memusatkan perhatian pada momen saat ini tanpa menghakimi apa yang sedang dirasakan.
Selain itu, mewarnai juga menjadi bentuk ekspresi kreatif yang tidak menuntut kemampuan menggambar. Siapa pun dapat melakukannya tanpa tekanan untuk menghasilkan karya yang sempurna.
Aktivitas sederhana ini juga dinilai mampu memberikan rasa kendali, terutama bagi orang yang sedang mengalami tekanan emosional. Ketika seseorang berhasil menyelesaikan satu gambar, muncul perasaan puas yang dapat membantu memperbaiki suasana hati.
Di tengah kesibukan sehari-hari, meluangkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit untuk mewarnai dapat menjadi salah satu bentuk self-care. Aktivitas ini dapat dilakukan sambil mendengarkan musik yang menenangkan atau di ruang yang minim distraksi agar tubuh dan pikiran lebih rileks.
Namun, penting untuk dipahami bahwa manfaat mewarnai tidak serta-merta menghilangkan gangguan kecemasan. Bila rasa cemas berlangsung terus-menerus, sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater tetap menjadi langkah yang paling dianjurkan.
Dengan kata lain, mewarnai dapat menjadi pelengkap yang membantu seseorang merasa lebih tenang, tetapi bukan pengganti terapi maupun pengobatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan profesional.