JAKARTA - Stabilitas sektor perekonomian di Provinsi Riau terpantau terus memperlihatkan tingkat ketahanan yang tangguh di tengah terjangan tekanan ekonomi global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik serta tingginya ketidakpastian iklim perdagangan internasional.
Menjelang paruh pertengahan tahun 2026 ini, denyut pertumbuhan ekonomi daerah tercatat masih berada di jalur positif, yang ditopang secara kuat oleh geliat aktivitas sektor industri, perdagangan, serta investasi yang solid.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Riau, Adnan Wimbyarto, memaparkan bahwa konstelasi ekonomi global saat ini masih dilingkupi oleh berbagai faktor risiko akibat meletusnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terkhusus perseteruan antara Iran melawan Amerika Serikat bersama para aliansinya.
Kondisi tersebut dinilai kian mendongkrak tingkat kerentanan terhadap stabilitas suplai energi global sekaligus memicu tingginya volatilitas pergerakan harga minyak dunia.
"Memasuki pertengahan tahun 2026, perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran dengan Amerika Serikat beserta sekutunya, meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan mendorong volatilitas harga minyak," kata Adnan, Kamis (30/7/2026).
Selain faktor tersebut, ia menilai bahwa fenomena fragmentasi rantai pasok perdagangan global serta arah kebijakan pengetatan moneter dari negara-negara maju masih menjadi batu sandungan tersendiri bagi laju pertumbuhan ekonomi makro dunia. Kendati demikian, negara Indonesia, termasuk di dalamnya wilayah Provinsi Riau, terbukti cakap dalam mempertahankan fondasi stabilitas ekonominya.
"Meskipun demikian, perekonomian Indonesia, khususnya di Provinsi Riau, tetap menunjukkan resiliensi yang baik. Permintaan domestik terjaga, inflasi relatif terkendali, sektor keuangan stabil, dan APBN tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional," ujarnya.
Adnan menguraikan lebih lanjut bahwa roda perekonomian Riau sepanjang periode kuartal I/2026 mampu mencatatkan angka pertumbuhan sebesar 4,89 persen jika dikomparasikan dengan kurun waktu yang sama pada tahun sebelumnya. Capaian positif ini didorong oleh kuatnya kinerja penopang dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, serta arus penanaman investasi.
"Perkembangan ekonomi Provinsi Riau juga menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Pada kuartal I/2026, ekonomi Riau tumbuh 4,89% (year-on-year), didukung oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, dan investasi yang tetap kuat," ungkapnya.
Bergeser ke ranah neraca perdagangan internasional, wilayah Riau ternyata masih konsisten membukukan torehan kinerja yang menggembirakan. Selama rentang waktu bulan Januari hingga Mei 2026, provinsi ini sukses mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan nominal fantastis mencapai angka US$6,97 miliar. Total perolehan nilai ekspor tercatat menyentuh US$8,60 miliar, sementara besaran nilai impor berada di kisaran US$1,63 miliar. Besaran surplus ini merepresentasikan selisih bersih antara nilai total ekspor dan impor daerah.
"Kinerja tersebut menunjukkan bahwa komoditas unggulan Riau, khususnya kelapa sawit beserta produk turunannya, masih memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional," jelas Adnan.
Ditinjau dari indikator pergerakan tingkat harga, laju inflasi bulanan di Riau pada bulan Juni 2026 terpantau sebesar 0,35 persen, dengan akumulasi angka inflasi tahunan berada di level 4,55 persen. Lonjakan kenaikan harga barang dan jasa tersebut utamanya digerakkan oleh komoditas cabai merah, minyak goreng, buah tomat, bahan bakar minyak (bensin), biaya perawatan kendaraan pribadi, hingga komoditas ikan patin.
"Secara umum inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah," katanya.
Di sisi lain, tingkat taraf kesejahteraan petani lokal yang direpresentasikan lewat indikator Nilai Tukar Petani (NTP) justru menunjukkan adanya koreksi penurunan. Besaran NTP Riau pada periode Juni 2026 bertengger di posisi 193,69 atau mengalami penurunan sebesar 6,62 persen apabila dibandingkan catatan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh angka 207,41.
Penurunan tersebut diakibatkan oleh merosotnya indeks harga yang diterima kalangan petani sebesar 6,18 persen, di tengah kenaikan tipis indeks harga yang harus dibayar petani sebesar 0,46 persen.
Kendati mengalami koreksi, posisi angka tersebut faktanya masih menempatkan Riau sebagai daerah provinsi dengan kepemilikan Nilai Tukar Petani tertinggi nomor dua di seluruh pulau Sumatra, berada tepat di bawah Provinsi Bengkulu yang mencatatkan angka NTP sebesar 196,87.
"Hal ini mencerminkan kuatnya nilai tukar petani terutama karena dominasi petani sawit rakyat dengan nilai komoditas yang tinggi. Sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) cukup stabil di angka 109,02," tutup Adnan.