BULETINENERGI.COM — PT Freeport Indonesia memproyeksikan kontribusi penerimaan negara dari pajak, dividen, dan PNBP mencapai US$ 2,6 miliar atau setara Rp 46,13 triliun pada 2026. Setoran itu dihitung dengan asumsi harga tembaga US$ 4,75 per pon dan emas US$ 4.000 per ons.
Angka tersebut disampaikan Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta. Proyeksi ini muncul saat perusahaan masih menjalani tahap pemulihan usai longsoran material basah yang menghantam operasional mereka pada September 2025.
Rincian Setoran dan Target Produksi 2026
Tony menyebut setoran US$ 2,6 miliar itu terdiri dari tiga komponen utama, yakni pajak, dividen, dan penerimaan negara bukan pajak lainnya.
"Untuk proyeksi tahun 2026 ini, itu rencana penerimaan negara adalah US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp 40-an triliun dan ini terdiri dari pajak, kemudian dividen, dan juga PNBP lainnya," ujar Tony dalam rapat tersebut.
Target penerimaan itu bertumpu pada rencana penambangan bijih 124.000 ton per hari sepanjang 2026. Jumlah tersebut baru sekitar 65% dari kapasitas normal perusahaan yang mencapai 200.000 ton bijih per hari.
Dari sisi produksi metal, PTFI membidik 800 juta pon tembaga dan 700.000 ons emas atau setara 21 ton emas. Fasilitas pemurnian perusahaan juga ditargetkan memproduksi 103 ton perak batangan, 1,4 juta ton asam sulfat, serta 900.000 ton terak tembaga.
Lonjakan Setoran Baru Terjadi Mulai 2027
Pemulihan kapasitas tambang membuat kontribusi Freeport ke kas negara diperkirakan melesat dalam beberapa tahun berikutnya. Pada 2027, setoran diproyeksikan naik menjadi US$ 4,6 miliar.
Puncaknya terjadi pada 2028 dan 2029, ketika penerimaan negara dari perusahaan diperkirakan menembus US$ 8 miliar atau melampaui Rp 120 triliun per tahun.
"Ini akan sejalan dengan peningkatan produksi yang saya jelaskan di slide sebelumnya. Dan di tahun 2028 dan tahun 2029 dan seterusnya diperkirakan akan bisa mencapai US$ 8 miliar atau sekitar Rp 120 triliun lebih per tahunnya penerimaan negara dalam bentuk pajak, PNBP, dividen, dan pungutan-pungutan lainnya," terang Tony.
Kenaikan bertahap itu dikaitkan langsung dengan pemulihan Grasberg Block Caving yang sempat terdampak longsor setahun sebelumnya.
Kucing Liar Mulai Digarap, Investasi Rp 25 Triliun
Untuk menjaga pasokan jangka panjang, PTFI tengah mengembangkan tambang masa depan Blok Kucing Liar. Blok ini dijadwalkan mulai berproduksi pada 2029.
Alokasi investasi untuk Kucing Liar mencapai Rp 25 triliun, bagian dari total belanja modal Rp 72 triliun hingga 2033. Tony memastikan tahap pengembangan blok tersebut sudah berjalan saat ini.
"Tambang Kucing Liar yang merupakan tambang masa depan kami itu akan sudah mulai kami kerjakan dari sekarang dan itu sudah memasuki tahap development dan akan bisa mulai ditambang tahun 2029," tandasnya.
Proyeksi setoran Freeport menjadi gambaran bagaimana pemulihan satu blok tambang bisa mengubah posisi fiskal negara secara signifikan. Dengan asumsi harga komoditas bertahan, kas negara berpeluang menerima tambahan puluhan triliun rupiah per tahun begitu produksi kembali mendekati kapasitas normal.