Harga Batu Bara dan CPO Turun, Nikel-Timah Justru Menguat

Jumat, 18 September 2026 | 08:35:00 WIB

BULETINENERGI.COM — Harga batu bara Newcastle untuk pengiriman Oktober 2026 turun 0,55 persen ke USD 145,30 per ton pada penutupan perdagangan Kamis (17/9), sementara CPO melemah 1,39 persen menjadi MYR 4.816 per ton. Pelemahan dua komoditas andalan ekspor Indonesia itu terjadi di tengah gejolak pasokan minyak dunia akibat serangan Arab Saudi dan Houthi di Yaman. Di sisi lain, nikel dan timah di LME justru menguat, memberi sinyal berbeda bagi industri smelter dalam negeri.

CPO di Trading Economics juga melemah 1,39 persen menjadi MYR 4.816 per ton. Keduanya komoditas primadona ekspor Indonesia.

Minyak Mentah Masih di Atas USD 100

Harga minyak mentah dunia ditutup turun sekitar 1 persen, tetapi masih bertahan di atas level USD 100 per barel. Brent, patokan internasional, turun USD 1,01 atau 0,95 persen menjadi USD 104,82 per barel.

Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 52 sen atau 0,5 persen menjadi USD 101,91 per barel. Kedua acuan itu sebelumnya sudah terpeleset sekitar 3 persen pada perdagangan Rabu.

Investor mencermati dua hal sekaligus: gangguan pasokan akibat serangan Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman, serta laporan tambahan pasokan minyak mentah Arab Saudi ke pasar global. Tambahan pasokan itu bisa meredakan kekhawatiran.

Arab Saudi dan Houthi saling melancarkan serangan baru di sepanjang perbatasan pada Kamis. Perluasan perang di Timur Tengah ke Yaman dan Arab Saudi mengancam memperburuk kekurangan pasokan energi global sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Februari.

Nikel dan Timah Bergairah

Berbeda arah, harga nikel di London Metal Exchange (LME) naik 0,76 persen menjadi USD 16.290 per ton. Timah di bursa yang sama menguat lebih tajam, 1,45 persen, ke USD 53.186 per ton.

Penguatan dua logam industri ini menjadi kabar tersendiri bagi smelter dan perusahaan tambang dalam negeri. Nikel dan timah termasuk komoditas yang sudah masuk program hilirisasi.

Tekanan ke Penerimaan Negara

Pelemahan batu bara dan CPO berpotensi menggerus penerimaan negara dari sektor sumber daya alam. Keduanya penyumbang utama royalti dan PNBP mineral dan batu bara.

Bagi industri, harga batu bara yang lebih rendah bisa menekan biaya bahan bakar pembangkit listrik. Namun di sisi lain, produsen batu bara dalam negeri menghadapi risiko penurunan margin jika tren ini berlanjut.

Untuk CPO, penurunan harga berdampak langsung ke pendapatan petani sawit dan eksportir. Malaysia sebagai pesaing utama Indonesia juga mencatat pelemahan serupa di bursa derivatifnya.

Pergerakan harga pada Kamis (17/9) menunjukkan pasar komoditas masih dicoraki ketidakpastian geopolitik. Serangan di perbatasan Arab Saudi-Yaman menjadi variabel yang sulit diprediksi dalam beberapa pekan ke depan.

Terkini