Arus Migran ke Eropa via Laut Turun 39 Persen, 2.292 Tewas atau Hilang

Jumat, 18 September 2026 | 07:03:00 WIB

BULETINENERGI.COM — Sebanyak 2.292 migran tewas atau hilang di laut sepanjang 2026, naik dari 1.999 pada periode yang sama tahun lalu, menurut laporan terbaru Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). Angka kematian itu muncul meski penyeberangan ke Eropa lewat jalur laut turun tajam 39 persen, dari sekitar 98.000 orang menjadi 60.000 orang sejak Januari.

IOM merilis laporan tersebut pada Kamis, menyoroti paradoks yang terjadi di rute Mediterania dan Atlantik. Penurunan jumlah kedatangan tidak diikuti penurunan angka kematian, bahkan sebaliknya.

Direktur Jenderal IOM Amy Pope menyebut data itu mencerminkan dua kenyataan sekaligus. "Angka-angka ini menceritakan dua kisah sekaligus," ujarnya.

"Lebih sedikit orang yang tiba lewat laut di Eropa dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun orang-orang masih meninggal dan hilang dalam jumlah yang mengkhawatirkan saat mencoba mencapai tempat yang aman," kata Pope.

Rute Mediterania Tengah: Kedatangan Turun, Kematian Naik

Rute Mediterania Tengah, jalur utama dari Afrika Utara menuju Italia, mencatat penurunan kedatangan lebih dari separuh. Namun angka kematian di jalur yang sama justru melonjak dari 844 menjadi 996 orang.

Yunani menunjukkan pola serupa dengan skala lebih kecil. Kedatangan menurun, tetapi kematian naik tajam dari 284 menjadi 417 orang.

Spanyol mengalami penurunan baik pada kedatangan maupun angka kematian secara keseluruhan. Meski demikian, 879 orang tetap tewas atau hilang di rute menuju negara itu.

IOM mencatat mayoritas kapal yang tenggelam berangkat dari pantai Libya dengan kondisi penuh sesak dan tidak layak laut. Banyak perahu hilang tanpa pernah tercatat, sehingga angka kematian sebenarnya diperkirakan lebih tinggi.

Profil Migran: Ekonomi, Konflik, dan Pengungsian

Survei IOM terhadap migran di rute Mediterania Tengah menemukan faktor ekonomi sebagai alasan utama keberangkatan. Konflik dan kekerasan yang menyasar kelompok tertentu menempati urutan berikutnya.

Lembaga itu juga mendokumentasikan lebih dari 104.000 orang baru-baru ini mengungsi akibat perang di Yaman. Pengungsian skala besar dari Lebanon dan Suriah turut tercatat di tengah konflik kawasan yang belum mereda.

Menurut IOM, mayoritas orang yang mencoba bermigrasi melarikan diri dari perang dan persekusi. Namun tekanan ekonomi tetap menjadi pemicu dominan di jalur Afrika Utara-Eropa.

Kebijakan Perbatasan Eropa yang Mengeras

Sejumlah pemerintah Eropa bergerak ke arah kebijakan perbatasan yang lebih ketat, sebagian terdorong tekanan partai-partai kanan di seluruh benua. Uni Eropa menyepakati aturan baru pada Juni yang memungkinkan deportasi migran ke negara di luar blok.

IOM menyerukan pendekatan berbeda. Lembaga itu mendesak pembukaan jalur migrasi legal yang lebih luas dan penguatan langkah pengurangan risiko di jalur-jalur yang sudah ada.

"Di balik setiap angka ada manusia, keluarga, komunitas," kata Pope, menyerukan kerja sama internasional berkelanjutan yang menyelamatkan nyawa, melindungi orang-orang yang bergerak, memerangi perdagangan manusia dan eksploitasi, serta memperluas jalur yang aman dan reguler.

"Hampir setiap kematian dan kehilangan di laut dapat dicegah," tegasnya.

Jejak Krisis Ceuta dan Tekanan Politik

Laporan IOM terbit setelah krisis migrasi yang melanda Ceuta, enklave Spanyol di Afrika Utara, pada Juli. Lebih dari 70.000 orang menyeberang dari Maroko dalam dua hari.

Sedikitnya 90 orang meninggal dalam perjalanan tersebut. Peristiwa itu memicu protes nasional selama berminggu-minggu atas penanganan pemerintah terhadap gelombang kedatangan.

Spanyol kemudian meminta bantuan Uni Eropa untuk memproses 5.000 migran yang tersisa di Ceuta di tengah ketegangan lokal. Perdana Menteri Pedro Sanchez menuduh Rusia dan Israel menyebarkan disinformasi terkait krisis tersebut.

Di Brussels, lima negara Uni Eropa tengah merundingkan kesepakatan mengenai "pusat pemulangan" migran yang ditargetkan beroperasi pada 2027. Skema itu menjadi bagian dari pergeseran kebijakan migrasi blok yang semakin mengarah pada penahanan di luar wilayah Eropa.

IOM memperingatkan bahwa pengetatan kebijakan tanpa pembukaan jalur legal berisiko mendorong lebih banyak orang ke rute berbahaya. Mediterania dan Atlantik tetap tercatat sebagai jalur pelayaran paling mematikan di dunia.

Terkini