BKPM Ungkap Pengembangan Bioetanol Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Selasa, 15 September 2026 | 22:23:31 WIB
BKPM Ungkap Pengembangan Bioetanol Perkuat Ketahanan Energi Nasional.

JAKARTA - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengutarakan bahwa pengembangan bioetanol berhubungan erat dengan ketahanan ekonomi serta penguatan ketahanan energi lewat optimalisasi nilai tambah komoditas pertanian dan diversifikasi pasokan energi.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menuturkan bahwa pengembangan bioetanol terikat langsung dengan sederet prioritas strategis pemerintah, meliputi ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi, hingga ketahanan ekonomi.

“Pengembangan bioetanol ini memiliki keterkaitan dengan empat agenda utama, yakni ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi dan ketahanan ekonomi. Indonesia memiliki berbagai sumber bahan baku, antara lain tebu, singkong, sorgum yang dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah di dalam negeri,” jelas Todotua Pasaribu dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Todotua Pasaribu sendiri pada Senin (14/9) meresmikan Launching Bioethanol Development Center di Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung.

Sarana tersebut dibangun melalui kolaborasi PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) bersama PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) sebagai bentuk persiapan kapasitas industri bioetanol domestik seiring melonjaknya kebutuhan energi dan rencana penaikan bauran bioetanol menuju E20.

Menurut Todotua Pasaribu, urgensi pengembangan bioetanol kian mendesak lantaran konsumsi bensin nasional diprediksi naik dari kisaran 37,3 juta kiloliter pada 2025 menjadi 39,7 juta kiloliter pada 2029.

Di sisi lain, daya tampung produksi dalam negeri belum sepenuhnya sanggup mencukupi permintaan sehingga tingkat ketergantungan terhadap pasokan impor BBM masih tergolong tinggi.

Pada tahap awal penerapan bensin bauran bioetanol lewat skema E5, tingkat kebutuhan bioetanol diperkirakan menyentuh angka 1,7–2 juta kiloliter saban tahun. Akan tetapi, kapasitas produksi bioetanol fuel grade lokal masih terbatas.

Todotua Pasaribu menganggap kondisi tersebut menandakan pentingnya ekspansi kapasitas produksi, suntikan investasi, serta jaminan pasokan bahan baku demi menopang keberlangsungan industri bioetanol nasional.

Ditinjau dari ranah hilirisasi, pengembangan bioetanol menjadi sarana mengerek nilai tambah hasil tani lewat pengolahan menjadi komoditas energi. Dari sudut pandang transisi energi, bioetanol diharapkan mampu memperluas opsi energi terbarukan di sektor transportasi.

“Pengembangan bioetanol untuk bensin melengkapi pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar diesel. Keterlibatan industri otomotif menjadi penting untuk mendukung keterkaitan antara pengembangan bahan bakar dan teknologi kendaraan yang menggunakannya,” kata Todotua Pasaribu.

Dalam kerangka ketahanan ekonomi, hadirnya bioetanol diproyeksikan mampu membuka pasar alternatif bagi komoditas pertanian warga serta memperkuat peranan petani dan koperasi dalam rantai pasok industri.

Selaras dengan arah kebijakan bensin bauran bioetanol hingga E20, kesiapan daya dukung industri menjadi kunci. Bioethanol Development Center di Tegineneng dirancang menggunakan skema multi-feedstock dengan memanfaatkan molases, sorgum, dan limbah biomassa sebagai pasokan utama.

Pada fase awal, fasilitas tersebut dibangun berkapasitas 60 kiloliter guna mengkalkulasi tingkat keekonomian produksi. Todotua Pasaribu menargetkan fasilitas ini mulai mencetak bioetanol paling lambat pada Desember 2026.

Usai kalkulasi keekonomian produksi rampung, Todotua Pasaribu membidik ekspansi kapasitas menuju 60 ribu kiloliter pada 2027.

Todotua Pasaribu menegaskan, pertumbuhan industri bioetanol turut memerlukan integrasi yang solid antara sektor pertanian dan sektor industri pengolahan.

Petani membutuhkan kepastian pasar, pihak industri memerlukan jaminan pasokan bahan baku, sementara investor memerlukan kepastian bahwa ekosistem industri sanggup bergulir dalam jangka panjang.

“Jadi, masyarakat juga bisa ikut menanam. Konsep koperasi pun bisa kami jalankan. Koperasi nantinya menjadi pusat pengumpulan bahan baku, sementara fasilitas di sini menjadi penyerap atau offtaker-nya,” jelas Todotua Pasaribu.

Terkini