BULETINENERGI.COM — Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) di Jambi tengah bersiap melakukan lompatan besar di sektor pertanian. Melalui program bertajuk Pertanian Modern — Advanced Agriculture System (PM-AAS), wilayah yang dikenal dengan lahan rawa pasang surutnya ini menargetkan produksi padi yang jauh lebih tinggi dari capaian saat ini.
Bupati Tanjabtim Hj. Dillah Hikma Sari menyatakan program ini dirancang untuk mengubah total cara bertani di daerahnya. "Ini bukan lagi pertanian konvensional. Ini adalah sistem budidaya intensif berbasis teknologi yang mengedepankan efisiensi, mekanisasi, dan pertanian presisi," ujarnya di hadapan jajaran pemangku kepentingan, Senin (31/08/2026).
Mengubah Rawa Pasang Surut Jadi Lahan Produktif
Lahan seluas 3.559 hektare yang menjadi lokasi program tersebar di tujuh kecamatan, yaitu Muara Sabak Barat, Geragai, Dendang, Muara Sabak Timur, Rantau Rasau, Berbak, dan Nipah Panjang. Wilayah-wilayah ini memiliki karakteristik lahan rawa yang selama ini menjadi tantangan bagi para petani.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Tanjabtim, Sunarno, menjelaskan bahwa teknologi yang diterapkan tidak serta-merta meniru sistem dari daerah lain. "Teknologi Spesifik Lokasi disesuaikan dengan karakteristik lahan rawa pasang surut dan iklim Tanjabtim," terangnya, menekankan bahwa rancangan program harus adaptif terhadap kondisi setempat.
Enam Prinsip Kunci PM-AAS3>
Program ini dibangun di atas enam prinsip utama. Pertama, pola tanam rapat dalam baris yang bertujuan memaksimalkan jumlah titik tanam per hektare tanpa perlu membuka lahan atau hutan baru. Kedua, efisiensi sumber daya di mana air, pupuk, dan pestisida digunakan tepat sasaran dan tepat dosis guna menekan biaya produksi.
Prinsip ketiga adalah mekanisasi penuh. Seluruh proses mulai dari olah tanah, tanam, pemupukan, hingga panen akan didukung alat dan mesin pertanian modern. Hal ini diharapkan mempercepat proses dan mengurangi susut hasil. Keempat, lahan dikelola secara korporasi dalam skala luas, terintegrasi layaknya perusahaan.
"Sistem korporasi memberi posisi tawar lebih kuat bagi petani dalam rantai pasok pangan," tandas Sunarno. Ia menambahkan bahwa pengelolaan berkelompok ini juga mempermudah akses permodalan, sarana produksi, dan pemasaran hasil panen.
Sinergi Lintas Institusi Jadi Kunci
Suksesnya program ini tidak semata bergantung pada teknologi. Bupati Dillah menekankan perlunya komitmen dan kerja sama dari berbagai pihak. Rapat koordinasi tersebut sendiri dihadiri oleh Kepala BRMP Jambi Yunimar, Kepala BPLIP Kelas I Palembang, Komandan Kodim 0419/Tanjab, hingga perwakilan Perum Bulog cabang Kuala Tungkal.
Dukungan juga datang dari Tim Kerja Penyuluh Provinsi Jambi dan Tanjabtim serta para perwakilan kelompok tani. Dillah menegaskan sinergi ini penting karena pendampingan teknis di lapangan menjadi penentu keberhasilan transisi dari cara tanam tradisional ke sistem presisi.
Target Menjadi Percontohan di Provinsi Jambi
Dinas TPH disebutkan siap menjadi garda terdepan dalam pendampingan teknis. Pendampingan akan dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sekolah lapang, hingga evaluasi berkala. "Mari kita buktikan: dengan PM-AAS, Tanjabtim tidak hanya swasembada pangan, tapi juga menjadi kiblat pertanian modern di Provinsi Jambi," tegas Sunarno.
Dengan target produktivitas mencapai 8 ton per hektare—hampir dua kali lipat rata-rata nasional untuk lahan rawa—program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan. Jika berhasil, langkah Tanjabtim ini dapat menjadi model pengembangan pertanian di wilayah serupa lainnya di Indonesia.