Penderita Obesitas Perlu Paham Beda Low Impact dan Low Intensity

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:24:03 WIB
Ilustrasi Olahraga Low Impact.

JAKARTA - Bagi orang dengan kondisi obesitas yang mengalami gangguan pada persendian, menentukan jenis olahraga yang aman bukan berarti mesti menghentikan aktivitas fisik. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dr. Andhika Raspati, Sp.KO, menganjurkan agar proses latihan diawali dengan mencermati dua faktor utama, yaitu tingkat intensitas dan benturan terhadap sendi.

“Bagi penderita obesitas dengan keluhan sendi, mulailah dengan prinsip latihan intensitas rendah (low intensity) dan benturan rendah (low impact),” ujar Andhika dalam diskusi media bersama Novo Nordisk Indonesia bertajuk Hidup Lebih Ringan, Bergerak Lebih Bebas: Jaga Berat Badan, Lindungi Lutut dari Osteoarthritis di Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026).

Menurut penjelasannya, benturan (impact) serta intensitas (intensity) merupakan dua konsep yang tak sama. Pemahaman mendalam terkait kedua hal ini sangat krusial supaya porsi olahraga dapat diselaraskan dengan kondisi tubuh maupun masalah sendi yang dialami.

Andhika memaparkan bahwa impact berkaitan dengan besaran tekanan atau hentakan yang diterima area lutut sewaktu tubuh bergerak. Di sisi lain, intensity berhubungan dengan seberapa keras organ tubuh bekerja sepanjang melakukan aktivitas fisik tersebut.

“Impact (benturan), merujuk pada besarnya hentakan atau benturan fisik yang diterima oleh sendi lutut saat bergerak,” jelasnya.

Dengan ungkapan lain, low impact dan low intensity tidak mengacu pada satu hal yang persis sama. Bagi individu obesitas yang memiliki masalah persendian, kedua indikator ini wajib diperhitungkan sewaktu menentukan jenis olahraga.

Untuk meminimalisasi tingkat hentakan pada lutut, Andhika menyarankan beberapa opsi kegiatan yang bersifat low impact, salah satunya berenang.

“Pilih olahraga low-impact seperti berenang (fisioterapi akuatik) atau bersepeda menggunakan sepeda statis,” kata Andhika.

Sementara itu, skala intensitas menggambarkan seberapa besar energi dan kerja tubuh sewaktu beraktivitas fisik. Kondisi ini dapat dirasakan langsung lewat tingkat kepayahan, frekuensi pernapasan, hingga perubahan denyut nadi.

“Intensity (Intensitas), merujuk pada tingkat kelelahan, kerja napas (ngos-ngosan), dan detak jantung saat berolahraga,” ujarnya.

Hal tersebut menandakan bahwa latihan dengan benturan minim sekalipun tetap membutuhkan penyesuaian intensitas berdasarkan ketahanan tubuh. Penentuan variasi olahraga serta tingkat intensitasnya harus dipandang sebagai dua pertimbangan terpisah.

Selain mengamati besarnya hentakan pada sendi, porsi latihan juga dapat disesuaikan menurut target yang ingin dicapai. Andhika memaparkan bahwa olahraga jenis kardio sangat berdaya guna untuk membakar simpanan kalori tubuh.

“Untuk pembakaran kalori yang optimal, gunakan olahraga kardio,” tuturnya.

Di samping itu, penderita osteoarthritis (OA) disarankan melakoni latihan kekuatan yang berfokus pada kelompok otot utama. Menurut Andhika, bagian paha depan dan belakang, area bokong, serta punggung dapat dijadikan prioritas sasaran penguatan.

“Targetkan terlebih dahulu kekuatan kelompok otot-otot besar (large muscles) seperti otot paha depan atau belakang, bokong, dan punggung untuk meningkatkan metabolisme tubuh (BMR),” kata Andhika.

Upaya memperkuat massa otot ini menjadi bagian dari tahapan latihan guna menunjang aktivitas fisik para penderita OA. Namun demikian, pelaksanaan gerak harus tetap memenuhi kaidah yang benar dengan penambahan beban secara perlahan.

Andhika menegaskan bahwa berolahraga di pusat kebugaran sebenarnya tetap aman bagi penderita OA lutut. Poin penting yang mesti dijaga yakni ketepatan teknik gerakan serta penyesuaian beban secara bertahap.

“Berlatih di gym sebenarnya sangat aman bagi pasien OA lutut selama gerakannya benar dan beban (plate) yang digunakan disesuaikan secara bertahap,” imbuh Andhika.

Dirinya menambahkan bahwa skema penyesuaian program latihan dapat berjalan lebih optimal bila didampingi oleh instruktur profesional atau tim medis. Dengan pendampingan tersebut, pola latihan dapat dirancang fleksibel mengikuti kapasitas fisik tiap-tiap pasien.

Terkini