Produksi Minyak RI Jeblok di Bawah 600.000 Barel, Ini Biang Keroknya

Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:01:00 WIB

BULETINENERGI.COM — Jakarta, CNBC Indonesia — Target produksi minyak nasional tahun ini kembali meleset. Alih-alih menyentuh angka 600.000 barel per hari, realisasi lifting hingga akhir Juli 2026 baru mencapai 578.156 barel per hari (bph). Kondisi ini memaksa pemerintah dan operator blok migas bekerja ekstra untuk menahan laju penurunan yang terjadi sejak awal tahun.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengakui realisasi produksi migas masih di bawah target yang ditetapkan dalam APBN 2026. Berbagai gangguan teknis di lapangan-lapangan utama menjadi biang keladinya.

Gangguan di Blok Rokan dan Cepu Menekan Lifting

Dua blok raksasa penghasil minyak terbesar di Indonesia, Rokan dan Cepu, sama-sama mengalami masalah. Di Blok Rokan, operasi terganggu sejak Januari 2026 akibat kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI). Pasokan gas untuk kegiatan produksi sempat terhenti hingga awal Februari, membuat operator Pertamina Hulu Rokan (PHR) kehilangan momentum produksi.

Selain itu, sistem kelistrikan di WK Rokan juga bermasalah. Genset di fasilitas MCTN yang dikelola bersama PLN belum beroperasi optimal, mempengaruhi kinerja fasilitas produksi di lapangan. Dampaknya terlihat nyata: lifting minyak Rokan hingga Mei 2026 hanya 131.040 barel per hari, sekitar 80% dari target 163.859 bopd.

Sementara itu, Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil mengalami penurunan produksi alamiah (natural decline) yang cukup ekstrem. Produksi perusahaan migas asal Amerika Serikat itu turun dari 151.000 bph pada tahun sebelumnya menjadi sekitar 124.000 bph saat ini.

Ratusan Rig Berhenti dan Target yang Tak Tercapai

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, membeberkan fakta lain yang memperburuk situasi. Ada sekitar 270 rig yang operasinya dihentikan oleh Pertamina, dengan porsi terbesar di PHR. Kondisi ini jelas mengurangi aktivitas pengeboran yang seharusnya bisa menopang produksi.

"Di samping itu, ada shutdown di BP yang sampai hari ini belum full 100%. Di Pertamina Subang juga ada pipa yang kebakaran," kata Djoko dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Untuk Blok Cepu, pemerintah dan operator sepakat fokus menahan laju penurunan. "Kami sudah mengambil langkah-langkah agar natural decline ini dapat direduksi. Saat ini kondisi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar, jangan turun lagi," ujar Laode.

Optimisme di Tengah Tekanan Produksi

Meski berada di bawah target, operator optimistis produksi bisa membaik di sisa tahun ini. Direktur Utama PHR, Ruby Mulyawan, menyatakan pasokan gas dari pipa TGI yang sempat putus kini sudah normal kembali. Perbaikan genset MCTN juga ditargetkan rampung pada pertengahan Juli 2026.

"Saat ini year-to-date produksi Rokan sudah di 131.000 barel per hari. Insyaallah kalau semuanya lancar, kami bisa memproduksi sampai 144.000 barel per hari di tahun ini," ujar Ruby.

Perbaikan fasilitas kelistrikan dan pasokan gas menjadi kunci utama agar produksi minyak nasional tidak semakin terpuruk di tengah tingginya kebutuhan energi domestik.

Terkini