JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari Selasa (15/9/2026) dinilai masih mempunyai peluang untuk menguji area rentang kisaran 6.290 hingga 6.370. Sejumlah deretan saham pilihan seperti MEDC, RAJA, SSMS, dan AVIA terpantau masuk ke dalam radar daftar rekomendasi dari kalangan analis.
Tim Analis MNC Sekuritas mencatat bahwa IHSG sebelumnya sempat melanjutkan fase koreksi sebesar 0,10% ke level posisi 6.534 pada perdagangan hari Senin (14/9/2026), meskipun koreksi tersebut diiringi dengan kemunculan volume aksi pembelian dari pelaku pasar.
Berdasarkan analisis secara teknikal, posisi IHSG diperkirakan masih berada pada bagian dari fase wave iv dari wave (c) pada label indikator hitam, sehingga kondisi tersebut membuat indeks masih cukup rawan untuk menguji kembali area rentang level 6.290 sampai dengan 6.370.
Guna menghadapi sesi perdagangan hari ini, pihak MNC Sekuritas memperkirakan bahwa level batasan support IHSG berada di kisaran 6.279 dan 6.201, sementara untuk level resistance berada pada kisaran angka 6.585 dan 6.633. Adapun jajaran saham pilihan yang masuk dalam daftar rekomendasi mencakup MEDC, RAJA, SSMS, dan AVIA.
MEDC — Buy on Weakness Pergerakan harga saham MEDC tercatat menguat 1,29% ke level posisi 1.575, kendati dinamika transaksi harian masih didominasi oleh volume aksi penjualan. MNC Sekuritas memperkirakan bahwa posisi harga MEDC saat ini sedang berada pada bagian dari wave [iv] dari wave C.
Buy on Weakness: 1.480-1.570
Target Price: 1.670, 1.715
Stop Loss: di bawah 1.440
RAJA — Buy on Weakness Saham RAJA terpantau mengalami koreksi sebesar 2,44% ke level posisi 800 yang disertai dengan tekanan aksi jual yang cukup kuat hingga sukses menembus garis indikator MA20. Secara teknikal, MNC Sekuritas memperkirakan posisi saham RAJA sedang berada pada bagian dari wave [c] dari wave Y dari wave (B).
Buy on Weakness: 695-785
Target Price: 925, 980
Stop Loss: di bawah 660
SSMS — Buy on Weakness Saham SSMS mengalami koreksi sebesar 5.44% ke level 1.130 disertai tekanan jual. MNC Sekuritas memperkirakan posisi SSMS saat ini berada pada bagian dari wave [iv] dari wave C.
Buy on Weakness: 1.030-1.080
Target Price: 1.250, 1.350
Stop Loss: di bawah 1.005
AVIA — Sell on Strength Saham AVIA melanjutkan koreksi 0,57% ke level 350 dan masih didominasi oleh tekanan jual. Pergerakan saham juga telah berada di bawah MA20. MNC Sekuritas memperkirakan posisi AVIA sedang berada pada bagian dari wave (B) dari wave [A], sehingga saham ini masih rawan melanjutkan koreksi ke rentang 322-334 sekaligus MA60.
Sell on Strength: 356-364
Pergantian Menkeu Jadi Sentimen Pasar
Di tengah proyeksi laju IHSG yang dinilai masih cukup rawan mengalami tekanan koreksi, peristiwa pergantian posisi Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjelma menjadi sorotan sentimen penting yang dicermati secara seksama oleh para pelaku di pasar keuangan.
Ketika pengumuman perombakan kabinet (reshuffle) resmi digulirkan pada hari Senin (14/9/2026), IHSG yang sebelumnya sempat mengalami tekanan koreksi tajam hingga menyentuh angka 2% akhirnya berhasil ditutup dengan catatan penurunan tipis sebesar 0,10%.
Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menilai bahwa langkah pengangkatan Suahasil Nazara — yang sebelumnya mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Keuangan — mampu memberikan unsur kesinambungan kelembagaan yang kuat di dalam struktur lingkungan kementerian.
Menurut pandangan Andrey, pemahaman mendalam yang dimiliki oleh Suahasil terhadap pos APBN, sektor perpajakan, pengelolaan subsidi, serta berbagai program prioritas strategis pemerintah diyakini mampu menghadirkan kepastian hukum serta kepastian arah kesinambungan kebijakan fiskal negara.
"Latar belakang teknokratiknya juga diharapkan dapat menjaga kredibilitas fiskal serta komunikasi yang konstruktif dengan investor," kata Andrey, Senin (14/9/2026).
Di sisi lain, para investor global maupun domestik dipastikan akan terus memantau ketat arah kebijakan operasional yang diambil oleh Suahasil, yang mencakup pos belanja anggaran pemerintah, dana alokasi transfer ke daerah, pengelolaan subsidi energi, kebijakan penempatan likuiditas dana pada bank-bank pelat merah (BUMN), hingga komitmen tegas dalam menjaga rasio defisit fiskal agar tetap terkendali di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Sebaliknya, kebijakan fiskal yang lebih ekspansif atau intervensi kebijakan yang lebih besar dapat mempertahankan tekanan terhadap imbal hasil obligasi dan rupiah, sekaligus meningkatkan ketidakpastian terkait likuiditas dan kondisi pendanaan sektor perbankan," tandasnya.