JAKARTA - Menjalankan peran sebagai orang tua tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan fisik anak harian, melainkan juga melibatkan dinamika beban mental yang tidak kasat mata.
Kondisi tersebut mencakup proses berpikir, perencanaan, serta pengelolaan kebutuhan rumah tangga dan perkembangan anak secara berkelanjutan.
Tekanan kognitif yang berlangsung terus-menerus ini berisiko memicu kecemasan, gangguan tidur, hingga memicu kejenuhan atau burnout dalam pola pengasuhan.
Studi menunjukkan bahwa ibu sering kali memikul porsi kerja kognitif maupun fisik yang lebih besar, meski tidak menutup kemungkinan bahwa para ayah juga mengalami tekanan serupa.
Untuk meminimalkan dampak buruk terhadap kesehatan emosional keluarga, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan oleh orang tua.
Pertama, mengabaikan ekspektasi atau standar pengasuhan yang tidak realistis, terutama yang dipicu oleh paparan media sosial.
Kedua, membangun jaringan dukungan atau support system yang solid bersama komunitas, kerabat, atau sesama orang tua.
Dukungan dari teman, keluarga, atau kelompok sesama orang tua, bisa membantu kami merasa dipahami dan tidak sendirian.
Ketiga, menjalin komunikasi yang jujur dan transparan bersama pasangan guna membagi peran serta tanggung jawab pengasuhan secara adil.
Keempat, berani menyisihkan waktu untuk memprioritaskan kebutuhan diri sendiri tanpa merasa bersalah.
Kelima, memanfaatkan teknologi dan jadwal terstruktur untuk mengotomatisasi rutinitas harian sehingga dapat mengurangi keletihan dalam mengambil keputusan.