Eskalasi AS-Iran dan Bencana Domestik Tekan Nilai Tukar Rupiah

Eskalasi AS-Iran dan Bencana Domestik Tekan Nilai Tukar Rupiah
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah di Money Changer [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan mengakhiri perdagangan dengan pelemahan di rentang Rp17.640-Rp17.680 per dolar AS hari ini, Selasa (8/9/2026).

Sebelumnya, nilai tukar mata uang Garuda ditutup menguat 2 poin atau 0,03% sehingga berada pada posisi Rp17.640 per dolar AS pada Senin (7/9/2026). Indeks dolar AS pada pukul 15.00 WIB tercatat turun 0,33 poin atau 0,33% ke level 98,8.

Sementara itu, pergerakan mata uang lain di kawasan Asia terpantau bervariasi saat ditutup di hadapan dolar AS. Mata uang yen Jepang menguat 1,11%, dolar Hong Kong naik 0,01%, dolar Singapura terangkat 0,09%, dolar Taiwan bertambah 0,29%, dan won Korea terdorong 0,31%.

 Di sisi lain, yuan China terkoreksi 0,02%, ringgit Malaysia bergerak stagnan, serta baht Thailand menguat 0,25% atas dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa sentimen global bersumber dari militer AS yang mengumumkan telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada hari Sabtu, usai pasukan Iran menyasar kapal-kapal Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik.

Pihak Iran lantas menyatakan telah menyerang sebuah pesawat nirawak (drone) angkatan laut AS dan menegaskan bahwa serangan balasan dari AS bakal memicu respons yang jauh lebih keras. 

Pejabat tinggi keamanan Iran menyebutkan Teheran akan menetapkan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz dalam kurun beberapa hari mendatang, di mana kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut berisiko terkena sanksi, merujuk pada laporan Press TV.

Meningkatnya ketegangan ini memunculkan kecemasan bahwa jalur pelayaran komersial serta distribusi energi yang melintasi Selat Hormuz dapat mengalami hambatan lanjutan. Padahal, sekitar satu per lima dari total konsumsi minyak dunia rutin melewati selat tersebut.

Di samping itu, rilis data dari AS memperlihatkan bahwa sektor perekonomian berhasil menyerap lebih banyak tenaga kerja ketimbang estimasi awal. Tercatat lebih dari 162.000 warga Amerika terserap ke dalam angkatan kerja sepanjang bulan Agustus, jauh melampaui perkiraan sebanyak 56.000 serta menungguli laporan bulan Juli yang direvisi naik dari -23.000 menjadi 21.000. Laporan tersebut juga mencatat Tingkat Pengangguran berada di kisaran 4,1%, lebih rendah dari proyeksi pejabat The Fed sebesar 4,5% untuk akhir tahun.

Dari dalam negeri, pekan ini menjadi ajang pembuktian bagi kelenturan kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya tidak sekadar menjaga ritme pertumbuhan, tetapi juga memastikan stimulus moneter tidak dibayar mahal dengan gejolak nilai tukar rupiah dan hengkangnya modal asing.

Ibrahim menambahkan bahwa kekhawatiran pasar masih membayangi terkait bencana alam, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat malam, 4 September hingga akhir pekan ini yang membawa dampak sangat masif pada sektor penerbangan serta mobilitas masyarakat.

Ibrahim menuturkan bencana alam yang terjadi secara serempak, termasuk pembakaran lahan gambut yang terjadi di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra, serta mengeringnya Sungai Barito membuat transportasi batu bara terhenti. Kondisi ini kian memperumit risiko ekonomi domestik seiring terbatasnya aktivitas transportasi dan memicu risiko terganggunya rantai pasok.

09:30 WIB — Rupiah Dibuka Depresiasi Berdasarkan data Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, mata uang rupiah berada pada posisi Rp17.641 per dolar AS, bergerak melemah 0,01% atau 1 poin. Pelemahan tipis nilai tukar rupiah ini turut diikuti oleh ringgit Malaysia atas dolar AS yang turun 0,02%, serta yuan China yang terkoreksi 0,01%.

12:12 WIB — Rupiah Stagnan Rp17.615 per Dolar AS Pergerakan nilai tukar rupiah terpantau tidak bergeming atau stagnan di posisi 17.615,9 per dolar AS pada pukul 12.10 WIB.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index