JAKARTA - Kepala Negara Prabowo Subianto memberi instruksi agar proses pembangunan hunian tetap dan perbaikan rumah korban gempa Flores, Nusa Tenggara Timur, dilakukan usai memperoleh rekomendasi aman dari BMKG.
“Saya kira kami tetap mengacu saja kepada BMKG. Kalau mereka menilai sudah aman untuk mulai membangun, baru kami mulai bangun,” kata Prabowo saat memimpin rapat koordinasi penanganan dampak gempa NTT di Markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 834/Wakanga Mere, Desa Tonggurambang, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Rabu.
Presiden menegaskan bahwa pihak pemerintah perlu menanti arahan BMKG sebelum memulai tahap rekonstruksi demi menjamin lokasi terdampak benar-benar aman dari risiko gempa susulan.
“Kami menunggu BMKG, saya kira karena mereka yang ahli. Kami tahu, semuanya ingin lebih cepat, normal, tetapi kalau memang alamnya seperti itu, kami juga tidak bisa memaksakan,” sambungnya.
Di sisi lain, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa lembaganya secara rutin meninjau frekuensi aktivitas seismik di kawasan Pulau Flores guna memantau perkembangan kondisi kegempaan.
“Tiap hari kami evaluasi, kalau sudah enam hari berturut-turut terus mengalami penurunan, nanti akan kami umumkan,” ujar Faisal kepada Presiden.
Berdasarkan data BMKG, kondisi di Nusa Tenggara Timur diprediksi berangsur stabil dan aman dalam rentang empat pekan pascagejolak gempa bermagnitudo 7,7 yang menguncang wilayah Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.
Pada kesempatan rapat tersebut, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memaparkan data korban jiwa yang menyentuh angka 105 orang, 1.678 orang mengalami luka-luka, 179.073 jiwa mengungsi, serta 81.436 unit rumah mengalami kerusakan.
Suharyanto menerangkan bahwa barisan pengungsi bukan hanya terdiri atas warga yang terdampak gempa secara langsung, melainkan juga penduduk yang memilih mengungsi akibat rasa cemas terhadap guncangan susulan.
Terhitung sejak pekan lalu hingga Rabu, tercatat telah terjadi sebanyak 143 kali gempa susulan di daerah terdampak.
Kendati demikian, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan bahwasanya sebagian warga yang mengungsi di wilayah tertentu, termasuk Kabupaten Sikka, sudah bertolak kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Menanggapi fenomena tersebut, Suharyanto menjelaskan proyek pembangunan hunian sementara sudah mulai digulirkan di Kabupaten Sikka untuk mengakomodasi kebutuhan warga terdampak.
“Sementara kan bangunan yang semipermanen, relatif aman terkait gempa, tetapi lebih baik daripada tinggal di tenda. Kami sudah mulai bangun,” kata Suharyanto.