Bahaya Kurang Tidur yang Dapat Mengganggu Sistem Pencernaan Manusia

Bahaya Kurang Tidur yang Dapat Mengganggu Sistem Pencernaan Manusia
Ilustrasi Kurang Tidur.

JAKARTA - Kebiasaan kurang tidur selama ini lebih identik dengan rasa lelah, kantuk, atau penurunan konsentrasi di siang hari. Namun, durasi tidur yang tidak mencukupi juga dapat berdampak negatif pada organ tubuh lain, khususnya sistem pencernaan.

Keterkaitan antara kualitas tidur dan kesehatan usus dipengaruhi oleh gut-brain axis atau sumbu usus-otak, yakni jalur komunikasi antara saluran pencernaan dan sistem saraf. Ketika tidur terganggu, keseimbangan mikrobioma di usus dapat berubah sehingga memicu gangguan pencernaan hingga peradangan.

Melansir Very Well Mind, Dr. Fouzia Siddiqui selaku Neurolog sekaligus Direktur Medis Sleep Center di Sentara Health menjelaskan bahwa kurang tidur berpotensi merusak mikrobiota usus.

“Kurang tidur dapat menyebabkan terganggunya mikrobiota usus, sementara gangguan tidur juga berkaitan dengan perubahan komposisi mikrobiota usus,” ungkap Siddiqui.

Usus merupakan area utama berkumpulnya sebagian besar mikrobioma tubuh. Peran mikroorganisme ini sangat krusial dalam menjaga kesehatan, sehingga perubahan pada komposisinya akan memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan.

Chief Medical Officer immy, Dr. Charles Akle, menerangkan bahwa sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk beristirahat.

“Sumbu usus-otak kini diketahui sangat penting dalam menjaga tubuh tetap sehat. Menariknya, mikrobioma juga membutuhkan waktu untuk beristirahat,” kata Akle.

Menurut Akle, tidur merupakan fase krusial untuk memulihkan serta memperbaiki berbagai proses metabolisme. Fenomena jet lag menjadi gambaran sederhana bagaimana perubahan zona waktu yang mengganggu pola tidur turut memengaruhi tubuh.

“Tidur yang buruk akan berdampak pada pencernaan yang kurang optimal sekaligus menurunkan fungsi otak,” ujarnya.

Dampak kurang tidur juga merembet pada pemilihan jenis makanan. Siddiqui menyebutkan bahwa kondisi tubuh yang kurang istirahat dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam memilih asupan.

Ketika konsumsi makanan menjadi tidak sehat, hal tersebut memperburuk kondisi usus dan kesehatan tubuh secara menyeluruh. Kaitan antara tidur dan usus tidak sebatas durasi tidur, melainkan juga pola makan yang terbentuk saat seseorang kekurangan tidur.

Masalah pencernaan akibat kurang tidur juga berkaitan dengan timbulnya gejala refluks. Siddiqui menyampaikan bahwa penurunan hormon melatonin akibat kurang tidur berhubungan dengan kondisi gastroesophageal reflux disease (GERD).

“Melatonin juga membantu mengatur pergerakan saluran pencernaan,” jelas Siddiqui.

Selain itu, kurang tidur memicu respons peradangan. Siddiqui memaparkan bahwa kondisi tersebut merusak keseimbangan alami sel-sel kekebalan tubuh, sehingga menjadi sangat aktif dan memicu reaksi inflamasi.

“Kurang tidur mengganggu keseimbangan alami sel-sel kekebalan tubuh yang sehat sehingga menjadi terlalu aktif dan memicu respons peradangan,” kata Siddiqui.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan perubahan jangka panjang pada sel punca kekebalan serta meningkatkan risiko penyakit inflamasi kronis hingga gangguan kardiovaskular.

Hubungan ini bekerja secara dua arah. Kondisi mikrobioma usus pun turut memengaruhi produksi hormon pemicu tidur seperti melatonin.

Siddiqui menjelaskan bahwa mikrobioma usus memengaruhi kinerja enzim yang memproduksi melatonin. Sebaliknya, ketidakseimbangan mikrobioma atau dysbiosis dapat menghambat produksi melatonin dan memicu gangguan tidur.

Untuk menjaga kesehatan usus dan kualitas tidur, Siddiqui menyarankan orang dewasa untuk tidur selama 7 hingga 9 jam setiap malam serta menjaga konsistensi jadwal tidur dan makan.

Ia mengimbau agar tidak mengonsumsi makanan berat menjelang tidur dan menghindari makan malam yang terlalu dekat dengan waktu istirahat.

Dari segi asupan, Akle menyarankan agar mengonsumsi buah dan sayuran musiman serta makanan hasil fermentasi.

Siddiqui menambahkan rekomendasi untuk mengonsumsi buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta rempah-rempah, serta membatasi asupan kafein setelah pukul 14.00.

Kondisi kamar tidur juga perlu diperhatikan agar tetap sejuk, gelap, dan tenang. Siddiqui menyarankan agar menghindari penggunaan layar elektronik setidaknya 1 jam sebelum tidur guna mencegah paparan cahaya biru yang menekan melatonin.

Tidur yang cukup sangat penting tidak hanya untuk memulihkan energi, tetapi juga untuk menjaga sistem pencernaan dan keseimbangan mikrobioma usus. Menjaga pola tidur dan makan secara konsisten menjadi langkah utama memelihara kesehatan hubungan antara otak dan usus.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index