JAKARTA - Kementerian Kehutanan melepasliarkan 15 ekor burung air di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Angke, Jakarta Utara, Senin. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memulihkan keberadaan ekosistem lahan basah sekaligus memperkuat peran kawasan konservasi di tengah area perkotaan.
Aksi pelepasliaran tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki. Kegiatan ini berlangsung di sela perayaan puncak Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, yang dilaksanakan secara serentak bersama jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) serta para kepala taman nasional di seluruh tanah air.
"Pelepasliaran dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan sekaligus memperkaya kembali komponen keanekaragaman hayati di habitat yang sesuai," kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko.
Spesies burung yang dilepaskan meliputi ibis cucukbesi (Threskiornis melanocephalus) yang berstatus satwa dilindungi, serta pecuk padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris).
Satyawan menerangkan bahwa ibis cucukbesi merupakan jenis burung air bertubuh besar yang eksistensinya terhubung erat dengan kelestarian ekosistem lahan basah, seperti hutan mangrove dan kawasan pesisir.
Di sisi lain, hadirnya pecuk padi hitam dapat difungsikan sebagai penanda indikator kondisi perairan yang mampu mendukung taraf kehidupan satwa liar.
Agenda pelepasliaran fauna ini dijalankan berbarengan dengan aksi penanaman puluhan bibit mangrove sebagai gerakan pemulihan ekosistem serentak di pelbagai daerah Indonesia.
Program tersebut juga menjadi wujud pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait akselerasi rehabilitasi lahan kritis serta penguatan langkah pemulihan lingkungan.
Satyawan menyampaikan penunjukan TWA Angke didasari atas posisi kawasan tersebut sebagai salah satu contoh krusial benteng ekosistem mangrove yang mampu bertahan di tengah megapolitan Jakarta.
"Di Jakarta ini kami masih mempunyai kawasan mangrove yang sangat penting, dan ini harus kami pertahankan. TWA Angke menjadi salah satu contoh bagaimana ekosistem yang berada di tengah kota tetap bisa dipulihkan dan memberikan manfaat ekologis," kata Satyawan.
Ia menambahkan, penunjukan TWA Angke juga tidak lepas dari peran strategis kawasan tersebut sebagai sabuk penyangga area pesisir Jakarta.
Ekosistem mangrove memegang peranan kunci dalam mengamankan garis pantai, menyediakan habitat bagi ragam satwa, serta mengikat simpanan karbon guna meredam dampak perubahan iklim.
TWA Angke membentang di atas lahan seluas kurang lebih 99,82 hektare yang berlokasi di wilayah Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Kawasan ini merupakan bagian dari sisa hutan di Jakarta yang diamanahkan untuk dikelola sebagai tempat wisata alam dan edukasi, sekaligus mempertahankan kelestarian hutan mangrove sebagai penahan intrusi air laut.
TWA Angke turut membuktikan kesuksesan proses restorasi mangrove. Merujuk data Balai KSDA Jakarta, tutupan vegetasi mangrove di TWA Angke Kapuk yang dahulunya amat terbatas kini melonjak pesat hingga mencapai 70 sampai 80 persen dari keseluruhan area setelah penanganan pemulihan intensif.
"Karena itu, dalam konservasi, ekosistem hutan itu tidak hanya pohonnya, tetapi juga satwa liar di dalamnya yang merupakan komponen penting untuk dipulihkan keberadaannya," kata dia.