JAKARTA - Komoditas emas belakangan ini mencatatkan dinamika fluktuasi harga yang memicu keraguan di kalangan calon investor untuk segera melakukan aksi beli. Sejumlah pihak lantas mempertanyakan apakah tren pergerakan harga logam mulia ini bakal terus merosot ke depannya.
Dinamika naik turunnya harga emas sendiri sangat dipengaruhi oleh sejumlah variabel penentu, yang pada periode ini disinyalir kuat berkaitan dengan penguatan nilai tukar dolar serta berbagai isu geopolitik global.
Ramalan Tren Harga Emas
Emas sempat melalui fase koreksi harga yang terbilang cukup tajam dalam beberapa bulan belakangan. Harga emas mulai menyusut dan mengindikasikan bahwa tren reli kenaikan sebelumnya telah berakhir, meskipun fenomena tersebut tidak bisa serta-merta dijadikan patokan mutlak.
Maklum saja, emas sejak lama dikenal sebagai instrumen instrumen investasi yang tangguh dalam menjaga nilai asetnya. Bahkan, logam mulia ini berpeluang kembali menanjak dalam horison waktu jangka panjang, terlepas dari adanya fase penyesuaian harga yang terjadi secara berkala.
Merujuk pada data dari Pegadaian, komoditas emas diproyeksikan bakal merangkak naik secara bertahap sejalan dengan estimasi dari berbagai lembaga keuangan dunia. Deutsche Bank memperkirakan rerata harga emas sepanjang 2026 berpotensi menyentuh level US$3.700 per ons, di mana angka tersebut lebih tinggi ketimbang proyeksi awal.
Di sisi lain, Goldman Sachs mematok estimasi bahwa harga emas berpeluang mendekati kisaran US$4.000 per ons menjelang pertengahan 2026. Pihaknya menilai proyeksi tersebut didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga, meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, ketegangan perdagangan global, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dunia.
Sementara itu, Bank of America turut mengalkulasikan potensi penguatan harga emas ke level sekitar US$3.350 per ons pada tahun 2026 ini. Pandangan yang senada turut disuarakan oleh J.P. Morgan yang menaruh optimisme tinggi bahwa nilai emas mampu menembus angka US$4.000 per ons pada 2026.
Menurut lembaga finansial tersebut, awan kelabu ketidakpastian ekonomi serta dinamika politik global masih berdaya dorong besar dalam memicu inflasi, sehingga daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai diyakini tetap berada di level yang tinggi.
Menimbang beragam proyeksi positif tersebut, emas dinilai masih sangat layak dipertimbangkan sebagai instrumen penanaman modal untuk jangka panjang. Walaupun saat ini tengah melintasi fase koreksi harga, komoditas ini tetap diandalkan sebagai salah satu aset safe haven yang aman.