JAKARTA - Menari selama lima menit mungkin terdengar terlalu singkat untuk memberikan manfaat bagi tubuh. Namun, aktivitas sederhana ini ternyata dapat membantu meningkatkan fokus, suasana hati, hingga kreativitas, sekaligus memberikan manfaat bagi kesehatan otak dan fisik.
Tak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di lantai dansa untuk mendapatkan manfaat tersebut. Melansir BBC (21/7/2026), aktivitas menari dalam waktu singkat pun dapat menjadi jeda yang bermanfaat di tengah rutinitas sehari-hari.
Sejumlah ahli menjelaskan bahwa menari memiliki kombinasi manfaat fisik, kognitif, dan sosial yang membuatnya berbeda dari beberapa jenis olahraga lainnya.
Psikolog tari sekaligus mantan penari profesional, Peter Lovatt, mengatakan manusia sebenarnya memiliki kecenderungan alami terhadap gerakan dan ritme. Hal tersebut terlihat sejak bayi. Penelitian terbaru menemukan bahwa bayi yang baru lahir sudah dapat mengantisipasi pola ritme.
Sementara itu, ahli saraf sekaligus mantan penari balet profesional dari Max Planck Institute for Empirical Aesthetics di Jerman, Julia Christensen, menjelaskan bahwa menari menyatukan beberapa aspek penting untuk kesehatan dan kesejahteraan.
"Menari mampu menyatukan tiga aspek yang sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan kami yang tidak selalu muncul bersamaan dalam aktivitas lain," kata Christensen.
Ketiga aspek tersebut adalah olahraga aerobik, hubungan sosial, serta kebebasan mengekspresikan diri melalui musik. Menari bersama orang lain juga dapat memberikan manfaat tambahan. Saat seseorang menyelaraskan gerakannya dengan orang lain, tubuh dapat melepaskan endorfin dan hormon yang berperan dalam membangun ikatan sosial.
Manfaat menari tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Aktivitas ini juga melibatkan berbagai bagian tubuh sekaligus otak, terutama ketika seseorang mengikuti gerakan atau menghafalkan rangkaian koreografi. Bahkan, aktivitas menari yang dilakukan dalam waktu singkat berpotensi membantu meningkatkan konsentrasi.
Salah satu penelitian yang melibatkan anak-anak sekolah menemukan bahwa lima menit aktivitas tari kelompok yang dilakukan secara sinkron dapat meningkatkan fokus mereka saat mengerjakan tugas matematika berikutnya. Anak-anak dalam penelitian tersebut juga menikmati aktivitas tari lebih dibandingkan beberapa bentuk latihan aerobik lainnya.
Vassilios Panoutsakopoulos, profesor madya di laboratorium biomekanika Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, yang turut menulis penelitian tersebut, mengatakan bahwa jeda aktivitas singkat dapat membantu menjaga konsentrasi dan produktivitas. Menurutnya, jeda tersebut penting karena kelelahan dapat terus menumpuk jika seseorang terlalu lama beraktivitas tanpa bergerak.
Selain membantu fokus, menari selama beberapa menit juga berpotensi meningkatkan kreativitas. Christensen mengaitkan manfaat ini dengan apa yang disebut sebagai incubation effect. Saat melakukan aktivitas lain seperti menari, otak dapat mengaktifkan bagian-bagian yang dibutuhkan untuk menemukan solusi terhadap suatu masalah. Gerakan tari improvisasi juga dikaitkan dengan kemampuan berpikir divergen, yaitu kemampuan menghasilkan berbagai ide baru untuk menghadapi sebuah tantangan.
"Hal itu dapat membantu kami keluar dari pola pikir yang sudah terbentuk," ujar Christensen.
Dengan demikian, menari dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan jeda pada pikiran sekaligus membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Di luar manfaat kognitif, menari juga dapat membantu memperkuat tubuh, meningkatkan keseimbangan, dan membuat seseorang lebih percaya diri terhadap kemampuan fisiknya. Manfaat tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tari digunakan sebagai bagian dari terapi bagi pasien penyakit Parkinson.
Salah satu penelitian juga menunjikkan bahwa intervensi tari selama 18 bulan dapat meningkatkan keseimbangan dan memperbesar hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam memori, pembelajaran, dan navigasi spasial.
Lovatt mengatakan, salah satu hambatan yang membuat orang enggan menari adalah rasa tidak percaya diri atau khawatir terlihat canggung.
"Kami perlu meyakinkan orang bahwa setiap tubuh adalah tubuh yang bisa menari," kata Lovatt.
Untuk memulainya, Christensen menyarankan memilih musik yang disukai dan mengikuti gerakan tari yang sesuai dengan kemampuan. Bagi yang ingin mendapatkan manfaat sosial, mengikuti kelas tari pemula atau kelas olahraga berbasis tari juga bisa menjadi pilihan.
Dengan waktu hanya lima menit, menari dapat menjadi jeda singkat dari rutinitas sekaligus cara sederhana untuk membuat tubuh lebih aktif, menjaga fokus, dan memberi ruang bagi otak untuk bekerja lebih kreatif.