Transaksi Kartu Kredit Tumbuh Dua Digit, Ini Prospeknya di 2026

Transaksi Kartu Kredit Tumbuh Dua Digit, Ini Prospeknya di 2026
Prospek Bisnis Kartu Kredit Saat Transaksi Tumbuh Dua Digit [FOTO: NET].

JAKARTA — Industri bisnis kartu kredit mengawali fase pertumbuhan yang menjanjikan sepanjang tahun 2026 ini. Di tengah kondisi volume jumlah kartu kredit yang praktis tidak mengalami penambahan berarti, angka nominal nilai transaksi justru melesat menorehkan pertumbuhan dua digit.

Merujuk pada paparan data Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia (SPIP), total kepemilikan kartu kredit yang beredar di tengah masyarakat mencapai angka 18,75 juta unit pada periode April 2026. 

Angka tersebut terpantau hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,37 persen secara tahunan (year on year / YoY) apabila dikomparasikan terhadap posisi bulan April 2025 yang mencatatkan sebanyak 18,68 juta unit.

Walaupun laju pertumbuhan jumlah unit kartu relatif mendatar, nilai transaksi kartu kredit justru menembus angka Rp41,83 triliun pada April 2026, atau merefleksikan lonjakan kenaikan sebesar 14,09 persen YoY jika dibandingkan dengan perolehan senilai Rp36,66 triliun pada rentang waktu yang sama di tahun sebelumnya.

Di sisi seberang, sektor industri jasa keuangan turut dihadapkan pada tren eskalasi laju bisnis buy now pay later (BNPL) atau layanan paylater yang berkembang dengan sangat pesat. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total nilai outstanding pembiayaan BNPL sukses menyentuh angka Rp29,3 triliun hingga periode April 2026, dengan tingkat pertumbuhan mencapai 37,29 persen secara tahunan.

Dinamika kondisi tersebut memicu tanda tanya besar di kalangan publik mengenai prospek keberlanjutan bisnis kartu kredit di tengah gempuran agresivitas layanan paylater. 

Kendati demikian, sejumlah pelaku utama industri serta para pengamat ekonomi menilai bahwa kedua instrumen fasilitas pembayaran tersebut nantinya justru akan berjalan berkembang secara berdampingan karena masing-masing menyasar preferensi kebutuhan transaksi yang berlainan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), Steve Marta, mengemukakan bahwa akselerasi pertumbuhan transaksi kartu kredit terutama dipicu oleh semakin masifnya adopsi penggunaan instrumen pembayaran digital dalam menunjang aktivitas keseharian masyarakat.

BACA JUGA BRI dan Visa Kolaborasi, Hadirkan Kartu Kredit Infinite Prioritas BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas Tawarkan Privilege Eksklusif BI Perpanjang Relaksasi Pembayaran Minimum Payment dan Denda Kartu Kredit

Menurutnya, masyarakat saat ini telah semakin terbiasa mengandalkan instrumen pembayaran non-tunai, termasuk di dalamnya pemanfaatan kartu kredit, guna merampungkan beragam jenis transaksi.

Selain faktor tersebut, momentum rentetan libur nasional yang terbilang cukup padat sepanjang kuartal I/2026 turut memberikan andil besar dalam mendongkrak kenaikan volume transaksi, seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan wisata baik untuk destinasi domestik maupun internasional.

“Semakin banyak merchant yang menerima transaksi menggunakan kartu kredit, baik untuk pembayaran langsung maupun sebagai sumber dana QRIS, juga ikut menopang kenaikan transaksi,” kata Steve, Senin (20/7/2026).

Steve berpandangan bahwa evolusi perkembangan ekosistem digital payment menjadikan fleksibilitas penggunaan kartu kredit semakin luas di berbagai macam kanal transaksi. Integrasi langsung antara fasilitas kartu kredit dengan standar QRIS, misalnya, sukses memperluas jangkauan penggunaan kartu hingga merambah ke para merchant yang sebelumnya mayoritas hanya melayani transaksi pembayaran berbasis kode QR.

Menanggapi laju pertumbuhan bisnis BNPL yang jauh lebih agresif, pihak AKKI justru menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak memandang layanan paylater tersebut sebagai ancaman destruktif bagi industri kartu kredit. 

Steve menyebutkan bahwa para pelaku industri memposisikan produk BNPL sekadar sebagai instrumen pelengkap (complementary product), dan bukan bertindak sebagai kompetitor langsung.

Meskipun terdapat titik irisan penggunaan pada beberapa jenis transaksi tertentu, karakteristik dasar dari kedua produk finansial tersebut jelas menunjukkan perbedaan yang mendasar.

Menurut penjelasannya, instrumen kartu kredit pada esensialnya diciptakan sebagai alat bayar utama yang sekaligus menyediakan fasilitas pendukung berupa cicilan manakala nasabah membutuhkannya. Sementara di sisi lain, layanan BNPL merupakan produk fasilitas kredit pembiayaan instan atau cicilan yang memang dirancang secara spesifik untuk tujuan penyelesaian transaksi tertentu.

Di samping itu, kartu kredit terbukti masih mempertahankan sejumlah keunggulan komparatif yang sulit untuk diemulasikan oleh layanan BNPL, di antaranya mencakup penawaran suku bunga yang relatif jauh lebih kompetitif, serta keberagaman program loyalitas konsumen berupa reward poin dan program promo menarik yang disediakan oleh pihak penerbit kartu.

Pandangan senada turut disuarakan oleh Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan. Menurut analisisnya, prospek masa depan bisnis kartu kredit tetap berada pada tren yang positif kendati tingkat kompetisi pasar dengan lini bisnis BNPL diestimasi bakal semakin mengetat.

Ia menilai bahwa realisasi pertumbuhan jumlah kartu yang terbatas di angka 0,37 persen YoY namun dibarengi oleh meroketnya nilai transaksi hingga 14,09 persen YoY mengindikasikan adanya pergeseran pola pertumbuhan di dalam tubuh industri.

“Artinya, pertumbuhan kini lebih ditopang oleh meningkatnya intensitas penggunaan kartu oleh nasabah yang sudah ada, bukan karena penambahan kartu baru,” ujar Trioksa kepada Bisnis, Senin (20/7/2026).

Trioksa memaparkan bahwa instrumen kartu kredit dan BNPL nantinya akan mengisi rongga segmen pasar yang tersegmentasi secara berbeda. Layanan BNPL memiliki keunggulan kompetitif pada ranah transaksi digital dengan nominal nilai yang relatif kecil karena menawarkan proses persetujuan yang instan dan sederhana. 

Sebaliknya, kartu kredit masih kokoh menjadi preferensi instrumen utama untuk mengakomodasi transaksi bernilai besar, agenda perjalanan wisata, pembayaran transaksi lintas batas internasional, hingga ragam transaksi yang menuntut kehadiran fitur penunjang tambahan seperti program loyalty rewards dan fleksibilitas termin pembayaran.

Kendati demikian, Trioksa memberikan catatan bahwa tingkat daya saing kartu kredit kini tidak lagi bisa disandarkan semata-mata pada fungsi dasarnya sebagai alat pembayaran fisik. Menurutnya, tantangan terbesar yang wajib ditaklukkan oleh korporasi perbankan adalah kemampuan menghadirkan inovasi teknologi digital, personalisasi layanan yang relevan, serta integrasi sinergis dengan ekosistem pembayaran masa kini yang terus bertransformasi.

Pada saat yang bersamaan, pihak bank juga diwajibkan untuk memperketat penerapan manajemen risiko secara disiplin guna memastikan bahwa lonjakan intensitas utilisasi fasilitas kredit tidak berujung pada pembengkakan rasio kredit bermasalah (non-performing loan).

Dengan mengandalkan formulasi strategi tersebut, ia menyakini bahwa lini bisnis kartu kredit nasional masih memiliki ruang ekspansi pertumbuhan yang terbilang cukup lapang, utamanya pada segmen basis nasabah kelas mapan yang memiliki frekuensi transaksi tinggi serta membutuhkan fleksibilitas tingkat tinggi dalam mengelola keperluan konsumsi maupun perjalanan.

Bank Perkuat Inovasi

Di ranah operasional perbankan, volume aktivitas transaksi kartu kredit terpantau terus menorehkan grafik peningkatan. PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), sebagai salah satu contoh, mengungkapkan bahwa lonjakan aktivitas transaksi kartu kredit utamanya ditenagai oleh pertumbuhan transaksi di ranah perdagangan elektronik (e-commerce), seiring dengan semakin tingginya tingkat adaptasi nasabah yang mulai terbiasa serta menikmati kemudahan berbelanja secara daring.

“Per Juni 2026, transaksi dari online marketplace mencapai pertumbuhan di atas 20% dibandingkan tahun sebelumnya,” ungkap Direktur Perbankan Konsumer dan Emerging Business CIMB Niaga, Noviady Wahyudi, Senin (20/7/2026).

Di samping itu, Noviady memaparkan bahwa antusiasme masyarakat dalam melakukan perjalanan (travelling) masih terpelihara di level yang cukup tinggi. Kondisi tersebut terfleksikan secara nyata dari catatan transaksi pada sektor Tour & Travel, maskapai penerbangan (airlines), serta perhotelan yang turut menampilkan grafik pertumbuhan impresif.

Adapun untuk transaksi pemenuhan kebutuhan pokok primer maupun sekunder—seperti belanja kebutuhan bulanan (groceries), aktivitas bersantap (dining), gerai fesyen (clothing stores), sektor kesehatan & kecantikan (health & beauty), rumah sakit, hingga gerai pusat elektronik dan komputer—juga memberikan sumbangsih kontribusi positif terhadap tren kenaikan transaksi kartu kredit.

Dalam rangka mengawal keberlanjutan pertumbuhan bisnis kartu kredit, perseroan secara konsisten mengalokasikan investasi untuk membangun infrastruktur platform digital yang ramah pengguna bagi nasabah, seperti pengembangan aplikasi OCTO, di samping terus mempertahankan ragam keunggulan benefit, fitur layanan, serta program promosi kartu kredit yang mampu memotivasi nasabah untuk terus menjadikan kartu kredit sebagai instrumen pembayaran andalan mereka.

Situasi performa positif yang serupa turut diekspresikan oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengemukakan bahwa pergerakan angka transaksi kartu kredit BCA secara konsisten memperlihatkan tren pertumbuhan yang sehat dan positif.

Hingga periode bulan Maret 2026, total nilai outstanding portofolio pinjaman konsumer lainnya, yang sebagian besar porsinya disumbangkan oleh produk kartu kredit, berhasil mencapai angka Rp25,1 triliun atau mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,8 persen secara tahunan.

“Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi dan mobilitas masyarakat,” ungkap Hera, Senin (20/7/2026).

Guna mempertahankan tingkat daya saing di tengah pasar, BCA terus memperkuat inovasi layanan digital berbasis kartu kredit. Saat ini, para nasabah dimungkinkan untuk dapat mengajukan permohonan kepemilikan kartu kredit secara daring, memantau riwayat transaksi, mengajukan perubahan batas limit, hingga menunaikan kewajiban pembayaran tagihan secara praktis langsung melalui aplikasi myBCA.

Di samping menghadirkan varian pilihan produk kartu kredit yang sangat komprehensif—mulai dari lini BCA Everyday Card, BCA Card Platinum, BCA Smartcash, Mastercard, jaringan Visa, JCB, UnionPay, hingga American Express—pihak perseroan juga terus agresif memperluas jaringan aliansi kerja sama strategis dengan berbagai mitra bisnis pilihan.

Memasuki periode mendatang, Hera menuturkan bahwa BCA akan senantiasa membuka lebar peluang kolaborasi bersama para mitra strategis baru serta konsisten merancang ragam program penawaran promosi menarik yang mampu menyuguhkan nilai tambah optimal sesuai dengan preferensi kebutuhan nasabah di berbagai segmen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index