BULETINENERGI.COM — Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melesat hampir 20% ke Rp13.825 per saham pada penutupan perdagangan Jumat (18/9/2026). Lonjakan ini dipicu terbitnya persetujuan RKAB untuk tiga anak usaha Bayan sekaligus kabar masuknya Haji Isam sebagai investor strategis.
Tiga anak usaha Bayan Resources, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, resmi mengantongi persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tahun 2026 pada Jumat (18/9/2026). Kepastian regulasi ini mengakhiri ketidakpastian operasional yang sempat menekan produksi batu bara perusahaan.
Sebelumnya, pada 11 September 2026, Bayan terpaksa menyatakan force majeure kepada para pelanggan karena RKAB belum juga terbit. Langkah itu diambil setelah produksi dan pemenuhan kontrak pasokan batu bara mulai terganggu.
Respons Pasar dan Sinyal Normalisasi
Dengan dikantonginya persetujuan RKAB, hambatan utama operasional Bayan berangsur terurai. Meski status force majeure tidak otomatis gugur dan masih butuh langkah administratif sesuai Coal Supply Agreement dengan pelanggan, pasar membaca perkembangan ini sebagai sinyal normalisasi.
Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, pada Rabu (16/9) lalu menargetkan evaluasi RKAB Bayan rampung pekan ini. Pernyataan itu menjadi penanda bahwa persoalan regulasi perusahaan segera menemui titik terang.
Efek Nama Haji Isam
Di saat yang sama, pasar diguncang kabar masuknya pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam dikabarkan telah menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) dengan Dato' Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, untuk mengambil alih 30% saham BYAN.
Nama besar Haji Isam dinilai punya daya pikat kuat bagi investor. Kombinasi kabar RKAB dan transaksi strategis inilah yang mendorong saham BYAN terbang pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Prospek Fundamental dan Catatan Analis
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menilai prospek bisnis Bayan secara fundamental tetap kuat. Perusahaan ditopang aset tambang dan infrastruktur besar serta masih punya ruang untuk meningkatkan produksi.
"Masalahnya hanya jangka pendek yaitu RKAB yang terhambat yang sangat berdampak pada produksi dan pemenuhan kontrak," ujar Bisman.
Menurutnya, lonjakan saham pada 18 September lebih tepat dibaca sebagai respons terhadap informasi transaksi strategis, bukan perubahan fundamental dalam sehari. Pasar dinilai bereaksi positif terhadap masuknya investor strategis baru.
"Kelihatannya pasar merespons positif masuknya investor strategis baru. Tetapi ini belum mencerminkan kondisi riil ke depan. Harga saham ke depan tetap akan dipengaruhi penyelesaian CSPA, kepastian RKAB, kinerja produksi, serta keuangannya. Termasuk juga harga batu bara di pasar global," ujar Bisman.
Perhatian pasar kini tertuju pada dua hal: berapa volume produksi yang disetujui dalam