Dapat Restu RUPO, Suspensi Saham Waskita Karya Berpotensi Dibuka

Jumat, 04 September 2026 | 02:01:02 WIB
PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

JAKARTA — Peluang pembukaan suspensi perdagangan saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) semakin terbuka setelah perseroan mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) terkait usulan restrukturisasi utang.

Dalam agenda RUPO yang digelar pada Kamis (3/9/2026), pemegang obligasi merestui seluruh usulan restrukturisasi Obligasi III Tahap IV Tahun 2019, termasuk skema perpanjangan tenor.

Keputusan ini menjadi kunci utama bagi pemulihan status perdagangan saham perseroan di Bursa Efek Indonesia, setelah saham BUMN Karya tersebut digembok sejak 8 Mei 2023.

Direktur Keuangan Waskita Karya Wiwi Suprihatno menegaskan komitmen perseroan untuk menuntaskan seluruh kewajiban serta memperkuat struktur keuangan berbasis tata kelola yang baik.

“Kami akan terus konsisten memenuhi kewajiban yang tersisa,” ujar Wiwi dalam keterangan resminya pada Jumat (4/9/2026).

Persetujuan RUPO ini sekaligus menjauhkan perseroan dari ancaman penghapusan pencatatan saham secara paksa atau forced delisting.

Hingga September 2026, masa suspensi saham WSKT tercatat telah berjalan lebih dari 3 tahun, melewati ambang batas 24 bulan yang diatur dalam Peraturan Bursa No. I-N.

Dari sisi penyehatan beban keuangan, Waskita sebelumnya telah menandatangani Master Restructuring Agreement (MRA) bersama 21 bank.

Sejak akhir 2023 hingga pertengahan 2026, perseroan sukses memangkas total utang sebesar 20,8 persen dari Rp84 triliun menjadi Rp66,5 triliun.

Selain menuntaskan seluruh kewajiban pajak past due, utang vendor past due juga berhasil ditekan hingga 97,1 persen dari Rp2,13 triliun pada 2022 menjadi tersisa Rp48 miliar di semester I 2026.

Penyehatan finansial ini diimbangi oleh pemulihan kinerja operasional, dengan pendapatan usaha semester I 2026 melonjak 58,49 persen secara tahunan menjadi Rp4,92 triliun.

Pencapaian tersebut disokong oleh pengerjaan proyek Sekolah Rakyat (SR) serta jaringan irigasi milik Kementerian Pekerjaan Umum.

Sampai Juni 2026, WSKT berhasil mengumpulkan nilai kontrak baru sebesar Rp5,1 triliun yang mayoritas didominasi oleh proyek konektivitas dan infrastruktur air.

Wiwi menyampaikan bahwa perseroan kini berfokus pada bisnis inti sebagai kontraktor murni melalui seleksi ketat proyek yang memiliki uang muka serta sistem pembayaran bulanan.

“Kami selektif dalam memilih proyek yang akan dikerjakan, sebagai bagian dari manajemen risiko. Waskita Karya juga menghindari proyek turnkey maupun investasi, serta berfokus pada proyek dengan skema monthly payment dan memiliki uang muka,” pungkas Wiwi.

Terkini