Perkuat Pasar Non-Captive, Elnusa Garap Proyek Seismik 150 Kilometer

Jumat, 04 September 2026 | 01:45:01 WIB
Pekerja Elnusa mengoperasikan kendaraan Vibroseis yang digunakan sebagai sumber getar.

JAKARTA — PT Elnusa Tbk. (ELSA) kembali memperluas pasar non-captive setelah mendapatkan kepercayaan pelanggan di luar Pertamina Group untuk mengerjakan dua proyek Survei Seismik 3D dengan luas area mencapai 150 kilometer persegi di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.

Proyek yang ditargetkan selesai pada awal 2027 tersebut merupakan kelanjutan dari pengerjaan seismik 3D sebelumnya dengan total luas 365 kilometer persegi di wilayah berdekatan.

Dengan penambahan proyek ini, total cakupan pekerjaan dari pelanggan yang sama kini telah mencapai sekitar 515 kilometer persegi.

Keberlanjutan proyek tersebut semakin memperkuat rekam jejak Elnusa dalam bisnis geoscience sekaligus memperluas basis konsumen di luar ekosistem Pertamina.

Corporate Secretary Elnusa Rustam Aji menjelaskan bahwa pengembangan pasar non-captive menjadi strategi perseroan untuk memperluas sumber pendapatan, mengoptimalkan utilisasi aset dan kompetensi, serta membuka peluang pertumbuhan baru.

Ia menyampaikan bahwa keberlanjutan kepercayaan pelanggan membuktikan kemampuan emiten berkode saham ELSA tersebut untuk bersaing di pasar eksternal.

“Bagi kami, proyek non-captive merupakan validasi terhadap daya saing Elnusa. Kepercayaan untuk kembali mengerjakan proyek di area yang berdekatan menunjukkan bahwa teknologi, kompetensi personel, serta kualitas eksekusi yang kami bangun dapat memberikan value bagi pelanggan,” kata Rustam dalam keterangannya, dikutip Jumat (4/9/2026).

Dari sisi strategi, ia mengungkapkan bahwa ELSA terus mengonversi keunggulan tersebut menjadi peluang pasar dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Dalam proyek Survei Seismik 3D ini, Elnusa mengoptimalkan teknologi STRYDE Nimble Seismic System sebagai bagian dari penguatan teknologi seismik generasi terbaru yang dilakukan perseroan sejak awal 2026.

Sebelumnya, Elnusa telah berinvestasi pada 25.000 STRYDE Range+ nodes yang didukung STRYDE Nimble System serta STRYDE Mini System.

Kombinasi teknologi tersebut memberikan fleksibilitas dalam desain dan pelaksanaan survei, termasuk untuk mendukung pengerjaan proyek secara simultan serta mengoptimalkan penggunaan sumber daya pada akuisisi seismik 2D maupun 3D.

Teknologi nodal tersebut juga mendukung akuisisi data seismik berdensitas tinggi, mempercepat siklus survei, dan meningkatkan efisiensi operasi. Perangkat yang ringkas dan fleksibel dinilai relevan dengan kondisi lapangan yang memiliki akses terbatas.

Rustam mengungkapkan bahwa karakteristik dua proyek di Musi Banyuasin menuntut penyesuaian dalam pelaksanaan survei karena area pekerjaan melintasi kawasan hutan, aliran sungai, area pertambangan, hingga permukiman masyarakat.

Sejalan dengan hal itu, Elnusa menyatakan aspek HSSE, kepatuhan regulasi dan perizinan, serta komunikasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan menjadi bagian utama dari setiap tahapan pekerjaan.

Penguatan bisnis geoscience tersebut sejalan dengan strategi Elnusa untuk menjadikan teknologi serta inovasi sebagai salah satu penggerak pertumbuhan utama.

Kapabilitas perseroan ditopang oleh pengalaman mengelola proyek seismik onshore maupun offshore dengan skala dan karakteristik yang beragam.

Rustam mengatakan investasi teknologi akan diarahkan untuk menghasilkan nilai ekonomi yang lebih optimal bagi perseroan.

“Ke depan, kami ingin memastikan setiap investasi teknologi dapat menghasilkan nilai ekonomi yang semakin optimal.”

Artinya, ujar Rustam, teknologi tidak berhenti sebagai peningkatan kapabilitas, tetapi harus mampu meningkatkan efisiensi, menjawab kebutuhan pelanggan, memperluas pasar, dan pada akhirnya menciptakan nilai jangka panjang bagi Perseroan dan pemegang saham.

Melalui ekspansi pasar non-captive dan penguatan teknologi seismik, Elnusa berupaya membangun basis pelanggan yang lebih beragam guna melengkapi bisnis perseroan di dalam ekosistem Pertamina sekaligus memperkuat daya saing layanan geoscience.

Terkini