Di EEF Rusia, Prabowo Tegaskan Pembangunan Harus Terasa oleh Rakyat

Jumat, 04 September 2026 | 19:17:01 WIB
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Federasi Rusia [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menandaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh sekadar mengalirkan keuntungan bagi segelintir pihak. Menurutnya, tolok ukur keberhasilan pembangunan wajib dinilai dari seberapa luas faedahnya dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut diutarakan Prabowo kala menyampaikan pidato kunci sebagai Tamu Kehormatan Utama dalam gelaran Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

Pada pidatonya, Prabowo mengutarakan bahwasanya parameter keberhasilan pembangunan semestinya diawali dari kebutuhan keluarga-keluarga biasa.

“Pembangunan tidak boleh hanya memberikan manfaat kepada segelintir orang. Pembangunan harus diukur dari meja makan keluarga-keluarga biasa,” kata Prabowo.

Ia lantas memerinci deretan indikator yang dipandangnya mencerminkan keberhasilan pembangunan, mencakup pemenuhan gizi anak, kemudahan petani memperoleh pupuk, tingkat harga hasil panen yang wajar, ketersediaan hunian layak, pembukaan lapangan kerja produktif bagi generasi muda, sampai jangkauan akses listrik bagi warga di pelosok desa.

Prabowo menguraikan bahwasanya prinsip itu menjadi tumpuan utama pada pelbagai kebijakan pemerintah Indonesia.

“Inilah alasan Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi seluruh anak-anak kami dan para ibu mereka yang sedang hamil,” ujarnya.

Ia turut menekankan pentingnya target swasembada pangan serta ketahanan energi sebagai bagian dari ikhtiar memperkokoh pilar ekonomi nasional. Menurut pandangan Prabowo, Indonesia mesti sanggup mencukupi kebutuhan strategis warganya sekaligus memperkuat ketahanan nasional.

Di samping itu, pemerintah secara konsisten memacu agenda hilirisasi industri. Prabowo menilai pemanfaatan sumber daya alam tak cukup sekadar mengejar penerimaan dari ekspor komoditas mentah. Kekayaan alam wajib diproses menjadi sektor industri yang mencetak keahlian serta lapangan kerja berkualitas di dalam negeri.

“Inilah alasan kami mempercepat hilirisasi industri agar sumber daya alam kami dapat menciptakan industri, keterampilan, dan lapangan kerja yang baik di dalam negeri,” katanya.

Prabowo juga menegaskan bahwasanya target pertumbuhan ekonomi Indonesia tak semata-mata memburu pencapaian angka. Laju pertumbuhan, menurut penjelasannya, wajib bertindak sebagai sarana untuk mendongkrak kesejahteraan warga serta mengikis angka kemiskinan.

“Inilah alasan kami menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat—bukan pertumbuhan hanya demi pertumbuhan itu sendiri, melainkan pertumbuhan yang dapat mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan menuju kehidupan yang bermartabat,” tutur Prabowo.

Di hadapan para hadirin forum ekonomi internasional tersebut, Prabowo lantas menyambungkan tantangan pembangunan Indonesia dengan pertanyaan fundamental yang menjadi isu sentral kawasan Timur Jauh beserta negara-negara pemilik kelimpahan sumber daya alam.

“Bagaimana kekayaan besar suatu kawasan dapat diterjemahkan menjadi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat yang tinggal di sana?” ujar Prabowo.

Terkini