BI Bersama Pemerintah Perkuat Pengendalian Inflasi Pangan Daerah

Selasa, 01 September 2026 | 02:36:01 WIB
Ilustrasi Pasar Tradisional.

JAKARTA - Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan bahwa lembaga bank sentral bersama pemerintah pusat serta pemerintah daerah terus mengokohkan sinergi demi menjaga stabilitas harga pangan sekaligus menekan laju inflasi daerah.

Salah satu kerangka strategis yang ditempuh yaitu lewat optimalisasi penanganan inflasi pangan di bawah naungan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Volatile food inflation-nya lagi naik. Nah, makanya memang BI bersama-sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, kami juga menangani program untuk pengendalian inflasi pangan,” kata Destry saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.

Berdasarkan penjelasannya, lonjakan inflasi menjadi perhatian kolektif mengingat komponen harga bergejolak (volatile food) teramat bergantung pada dinamika ketersediaan pasokan serta pergerakan harga komoditas pangan.

“Kalau kami lihat core inflation-nya masih tetap stabil, malah meningkat sedikit, artinya ada aktivitas ekonomi dari 2,7 (persen) ke 2,9. Tapi memang untuk volatile food-nya naik dari 2-an ke 4. Jadi memang PR kami bersama-sama menjaga stabilitas harga pangan,” ujarnya.

Destry menilai, langkah pengendalian inflasi—khususnya pada sektor komponen volatile food—tidak dapat digantungkan penuh kepada otoritas bank sentral semata. Pihak pemerintah turut dituntut melakukan intervensi langsung dari alur pasokan guna menjamin ketersediaan barang serta kestabilan harga pasar.

Merujuk data rilis Badan Pusat Statistik (BPS), wilayah Indonesia membukukan angka inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada periode Agustus 2026. Laju inflasi tersebut tercermin dari pergeseran Indeks Harga Konsumen (IHK) dari posisi 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 di Agustus 2026.

Capaian inflasi Agustus 2026 ini utamanya dipicu oleh kelompok volatile food yang mencatatkan inflasi 0,88 persen serta menyumbang andil 0,15 persen terhadap komposisi inflasi umum.

Komoditas utama yang memberikan andil inflasi dominan pada kelompok tersebut antara lain pasokan daging ayam ras, komoditas cabai rawit, serta beras.

Dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau, pasokan daging ayam ras menyumbangkan andil inflasi 0,17 persen. Di sisi lain, komoditas cabai rawit, pasokan ikan segar, serta beras masing-masing memberikan andil inflasi 0,02 persen.

Selain komoditas tersebut, bahan pangan seperti kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, hingga produk sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, laju inflasi inti pada rentang Agustus 2026 terekam berada di level 0,21 persen dengan andil mencapai 0,13 persen. Jenis komoditas dominan pemicu inflasi inti mencakup emas perhiasan, cairan pelumas atau oli mesin, perangkat telepon seluler, serta pembiayaan kuliah akademi atau perguruan tinggi.

Adapun pada kelompok komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) justru mencatatkan deflasi sebesar 0,33 persen dengan andil deflasi 0,07 persen. Penurunan harga ini utamanya dipengaruhi oleh penyesuaian tarif angkutan udara serta harga bahan bakar bensin.

Pada rentang periode yang sama, sektor kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,50 persen serta menyumbangkan andil deflasi 0,06 persen. Komponen tarif angkutan udara memberi andil deflasi sebesar 0,06 persen, sedangkan komoditas bensin menyumbangkan andil deflasi sebesar 0,03 persen.

Terkini