Pertamina Siagakan Kapal Kecil Kawal Tanker Migas di Balongan

Senin, 31 Agustus 2026 | 13:19:00 WIB

BULETINENERGI.COM — PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menyiagakan penuh operasional kapal Transko Dara 3218 untuk melayani kapal-kapal tanker pengangkut produk minyak dan gas di Terminal Khusus (Tersus) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit VI Balongan, Jawa Barat.

Kapal berukuran kecil ini tidak mengangkut BBM. Tugasnya membantu kapal tanker saat merapat atau lepas sandar dari pelampung terapung yang disebut Single Point Mooring (SPM), sekaligus menjadi sarana mobilitas personel menuju titik sandar di lepas pantai tersebut.

Sandar Kapal Besar Bisa Berujung Fatal

Vice President Legal & Relation Pertamina Trans Kontinental Amran Reza menyebut proses sandar dan lepas sandar kapal tanker adalah tahapan paling kritis dalam operasional pelabuhan. Semua kapal yang melintas di Tersus RU VI membawa produk migas, sehingga risiko kecelakaan kecil saja bisa berakibat besar.

"Proses operasional pelabuhan bagi kapal besar termasuk aspek yang kritikal, terlebih kapal tanker di wilayah Tersus RU VI merupakan pembawa produk migas yang berisiko tinggi. Serangkaian proses sandar maupun lepas sandar didukung oleh kapal-kapal PTK, sebagai simpul dari kegiatan maritim untuk menjaga aspek keselamatan, kesiapsiagaan terhadap potensi risiko, hingga kepatuhan terhadap regulasi," kata Amran dalam keterangan resmi, Senin (31/8/2026).

Kapal penunjang ini disiagakan 24 jam sehari mengikuti pergerakan tanker Pertamina. Rata-rata, Transko Dara 3218 beroperasi hingga tiga kali per hari, bergantian dengan kapal-kapal PTK lain di kawasan Balongan.

Pulau Jawa Bagian Barat Bergantung pada Balongan

Kilang RU VI Balongan memegang peran sekitar 80 persen distribusi energi di Jawa Barat bagian barat, termasuk Jakarta dan Banten. Pasokan dari kilang ini juga menjangkau Pontianak, Banjarmasin, Kotabaru, hingga sejumlah wilayah Indonesia Timur.

Artinya, kelancaran bongkar muat tanker di lepas pantai Balongan secara langsung menentukan stok BBM di SPBU wilayah-wilayah tersebut. Satu keterlambatan kapal sandar bisa berdampak ke rantai distribusi energi nasional.

"Dengan cakupan distribusi energi di RU VI, layanan PTK turut berkontribusi dalam mendukung rantai distribusi energi nasional," ujar Amran.

Armada 370 Kapal Milik dan 90 Kapal Sewa

PTK merupakan bagian dari Subholding Integrated Marine Logistics Pertamina yang menyediakan solusi maritim dan logistik terintegrasi. Perusahaan ini mengelola empat lini bisnis: kapal penunjang, layanan maritim, operasional pelabuhan, dan penyedia pergudangan di pinggir pantai (shorebase).

Saat ini PTK mengoperasikan 370 kapal milik dan 90 kapal sewa di seluruh Indonesia. Jumlah itu menjadi tulang punggung kebutuhan logistik energi maritim nasional.

Amran menambahkan, keandalan armada dan pelaut PTK selalu dijaga sesuai standar dan regulasi yang berlaku. "Para pelaut dan tenaga profesional PTK juga berkomitmen menjaga aktivitas operasional sesuai standar dan regulasi yang berlaku, serta mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan kerja," tutupnya.

Dengan tiga kali operasi setiap hari, kapal kecil ini bukti bahwa kelancaran distribusi energi tidak hanya bergantung pada kilang dan pipa besar, tapi juga pada kerja senyap kapal-kapal penunjang di lautan.

Terkini