Ekonomi Jawa Timur Tumbuh 5,72 Persen pada Triwulan II 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:31:01 WIB
Plt. Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan laporan bahwa perekonomian wilayah Jawa Timur pada periode triwulan II tahun 2026 jika dibandingkan dengan periode triwulan II tahun 2025 (year-on-year/yoy) tercatat menorehkan angka pertumbuhan sebesar 5,72 persen.

Besaran nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tercatat mencapai angka Rp930 triliun, sementara itu untuk perolehan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2010 sukses menyentuh angka Rp538,59 triliun.

"Semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan ekonomi positif kecuali Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati dalam konferensi pers di Surabaya, Rabu (5/8/2026).

Apabila ditinjau berdasarkan kategori lapangan usaha, sektor Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami kontraksi penurunan sebesar 4,89 persen, sedangkan untuk sektor-sektor lapangan usaha lainnya terpantau mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.

Deretan lapangan usaha yang membukukan angka pertumbuhan paling menonjol di antaranya adalah sektor Pengadaan Listrik dan Gas yang melesat tinggi sebesar 16,86 persen, yang kemudian disusul oleh sektor Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang bertumbuh sebesar 10,99 persen.

Berikutnya, sektor Lapangan Usaha Konstruksi turut mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,41 persen serta sektor Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi yang mengalami pertumbuhan sebesar 7,44 persen.

Jika dianalisis berdasarkan komponen sisi pengeluaran, tingkat pertumbuhan tertinggi berhasil dicatatkan oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang melonjak hingga 19,35 persen, yang kemudian diikuti oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,24 persen, serta Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 8,86 persen.

Selanjutnya menyusul pula Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang bertumbuh sebesar 5,59 persen serta Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 5,37 persen, sementara itu Komponen Impor Barang dan Jasa yang bertindak sebagai variabel faktor pengurang dalam kalkulasi PDRB tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 8,07 persen.

Secara sebaran spasial wilayah, struktur fondasi perekonomian di kawasan Pulau Jawa pada periode triwulan II tahun 2026 ini masih didominasi secara mayoritas oleh Provinsi DKI Jakarta dengan besaran andil kontribusi terhadap PDRB Pulau Jawa mencapai 28,89 persen, yang kemudian diikuti secara berurutan oleh Provinsi Jawa Timur sebesar 25,40 persen.

Posisi berikutnya disusul pula oleh Provinsi Jawa Barat dengan perolehan porsi sebesar 22,77 persen, Provinsi Jawa Tengah sebesar 14,50 persen, Provinsi Banten sebesar 6,91 persen, serta wilayah Provinsi DI Yogyakarta dengan sumbangsih kontribusi sebesar 1,52 persen.

Secara garis besar secara umum, ungkap Herum, dinamika roda perekonomian di wilayah regional Pulau Jawa terp masih terjaga dengan kokoh di dalam zona positif yang utamanya ditopang oleh semakin meningkatnya aktivitas kegiatan ekonomi di tengah masyarakat.

Pada kurun waktu triwulan II tahun 2026 ini, catatan angka pertumbuhan ekonomi secara tahunan paling tinggi berhasil dicatatkan oleh Provinsi DI Yogyakarta sebesar 5,75 persen yang kemudian diikuti oleh Provinsi Jawa Barat sebesar 5,73 persen, Provinsi Jawa Timur sebesar 5,72 persen, Provinsi Jawa Tengah sebesar 5,71 persen, serta Provinsi DKI Jakarta di level 5,52 persen.

"Kalau secara semesteran (c-to-c) pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Provinsi Jawa Timur dengan pertumbuhan sebesar 5,84 persen," ujarnya.

Terkini