JAKARTA - Ulasan terbaru yang menganalisis lebih dari 350 studi tentang pembatasan protein dan penuaan menemukan fakta yang cukup mengejutkan. Riset menguraikan bahwa memangkas porsi makanan berprotein justru dapat memperlambat proses penuaan dan membantu banyak orang untuk hidup lebih lama.
Penelitian yang dipublikasikan pada Jumat (31/7/2026) di jurnal Cell Press Blue tersebut menelaah efek pengurangan protein terhadap proses penuaan tubuh. Para peneliti menyimpulkan, pembatasan asupan protein terbukti mampu memperbaiki sistem metabolisme, mengubah cara sel bereaksi terhadap nutrisi, membatasi kerusakan tingkat seluler, serta membantu sel mempertahankan fungsi normalnya.
"Sangat jelas bahwa ada manfaat protein untuk pertumbuhan otot dan respons olahraga bagi individu yang aktif," ujar Penulis Koresponden Studi dari University of Wisconsin-Madison, Dudley Lamming, mengutip Science Daily, Selasa (4/8/2026).
"Tapi, karena kebanyakan orang cenderung malas bergerak, banyak dari kami yang mungkin mengonsumsi protein melebihi kebutuhan sebenarnya, dan ini berpotensi membawa dampak buruk bagi kesehatan," lanjutnya.
Memangkas asupan kalori mampu memperlangsung usia di banyak organisme, sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit terkait usia seperti kanker. Namun, menjalani diet rendah kalori dalam jangka waktu lama sangatlah menyiksa dan sulit dipertahankan oleh mayoritas orang.
Oleh karena itu, membatasi konsumsi protein dapat menjadi alternatif untuk dipertimbangkan. Studi terdahulu membuktikan bahwa lalat dan hewan pengerat dapat berumur lebih panjang saat porsi protein mereka dikurangi, meskipun total asupan kalori harian tidak mengalami penurunan.
Uji klinis terbaru pada manusia juga memperlihatkan hasil menjanjikan. Mereka yang rutin menurunkan asupan protein rupanya sukses memangkas berat badan dan kadar lemak di dalam tubuh. Selain itu, tingkat gula darah puasa mereka ikut membaik, meskipun secara keseluruhan justru mengonsumsi lebih banyak kalori.
Meski demikian, bukti ilmiah ini tidak hanya berasal dari satu sisi. Penelitian lain tetap mengindikasikan bahwa asupan protein yang lebih tinggi dapat mendukung penurunan berat badan serta menjaga massa otot pada lansia, terutama jika dibarengi rutinitas berolahraga.
Temuan inilah yang mendasari pembaruan panduan diet di Amerika Serikat tahun ini. Rekomendasi baru ini secara tegas mengimbau konsumsi protein harian sebesar 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan, angka yang nyaris dua kali lipat lebih tinggi dari anjuran sebelumnya.
Seiring meningkatnya konsumsi protein pada masyarakat, Lamming dan timnya meninjau puluhan tahun bukti riset untuk lebih memahami kaitan antara protein, metabolisme, dan penuaan. Hasilnya, asupan protein yang lebih rendah terbukti selalu berhubungan erat dengan fungsi metabolisme yang jauh lebih optimal, sinyal nutrisi yang berubah, hingga pemeliharaan sel sehat yang membaik.
Perbaikan metabolisme ini dipengaruhi oleh hormon pengatur penting bernama fibroblast growth factor 21 (FGF21). Kadar FGF21 melonjak drastis ketika asupan protein menurun tajam. Hormon ini bertugas membakar pengeluaran energi, menstabilkan regulasi gula darah, serta meredakan berbagai peradangan.
Studi ini juga menyoroti peran tiga jenis asam amino penyusun protein, yakni methionine, isoleucine, dan valine yang rupanya memegang peran penting. Riset menunjukkan, makan terlalu banyak asam amino ini berisiko mengaktifkan jalur biologis yang memicu pertumbuhan berlebihan. Jika dibiarkan terus aktif, hal ini dapat meningkatkan risiko obesitas, peradangan, dan berbagai kondisi terkait penuaan.
"Studi-studi ini menunjukkan bahwa jumlah protein yang dimakan orang-orang yang kurang gerak saat ini mungkin memiliki konsekuensi kesehatan yang negatif, setidaknya pada tingkat populasi," jelas Lamming.
Kebutuhan nutrisi untuk setiap individu tentu berbeda-beda. Ibu hamil dan kelompok lansia tertentu, misalnya, jelas memiliki kebutuhan gizi yang jauh lebih tinggi. Akan tetapi, bagi banyak orang dewasa yang lebih sering duduk diam, produk fortifikasi protein barangkali tidak menawarkan keuntungan kesehatan seperti yang mereka harapkan selama ini.
Sebagai perbandingan, atlet sering mengonsumsi banyak protein tanpa terkena penyakit metabolik sama sekali. Lamming menduga kuat bahwa aktivitas fisik yang intens mampu memberikan perlindungan khusus dengan mengalihkan tumpukan protein tersebut untuk membangun dan merawat otot yang sehat.
"Rekomendasi terbaru telah mendorong orang untuk makan lebih banyak protein, tetapi mereka juga mendorong orang untuk lebih banyak berolahraga," tutur Lamming.
"Kami mungkin perlu mempersonalisasi rekomendasi protein tidak hanya berdasarkan usia, tetapi juga seberapa aktif orang tersebut secara fisik," sambung Lamming.