JAKARTA - Pernah merasakan sensasi terbakar di dada, mual, atau rasa pahit di mulut saat dikejar beban pekerjaan? Berbagai keluhan tersebut umumnya kerap dikaitkan dengan pola makan, seperti terlambat makan atau terlalu sering mengonsumsi makanan pedas.
Namun, faktor kondisi psikologis sebenarnya juga memegang peranan besar terhadap kesehatan sistem pencernaan. Stres yang berlangsung terus-menerus dapat memicu maupun memperburuk berbagai keluhan pada saluran cerna, termasuk gejala refluks asam dan gastritis.
Keterkaitan antara kondisi mental dengan pencernaan terjadi karena otak serta organ pencernaan saling terhubung lewat jalur gut-brain axis atau sumbu otak-usus. Saat seseorang tertekan, tubuh mengalami perubahan sistem saraf dan hormon yang memengaruhi fungsi organ pencernaan.
Bagaimana stres memengaruhi lambung?
Ketika mengalami stres, tubuh mengaktifkan respons terhadap tekanan yang melibatkan hormon stres serta sistem saraf simpatis. Mekanisme ini dapat memengaruhi pergerakan saluran cerna, persepsi rasa sakit, hingga munculnya gejala asam lambung.
Stres juga mampu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap rasa tidak nyaman. Alhasil, sensasi panas maupun nyeri pada area dada dan perut akan terasa jauh lebih hebat dari biasanya.
Di samping faktor biologis, tekanan pikiran sering kali mengubah gaya hidup seseorang. Seseorang yang dilanda stres cenderung melewatkan waktu makan, makan berlebihan, atau bergantung pada kopi agar tetap fokus bekerja.
Rangkaian kebiasaan buruk tersebut lantas memperparah gangguan pada saluran cerna.
Stres dan gastritis
Menyadur UniCamillus, gastritis merupakan kondisi iritasi atau peradangan pada lapisan lambung. Masalah ini bisa dipicu oleh beragam faktor, mulai dari infeksi, konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu, hingga zat pemicu iritasi lainnya.
Kondisi stres dan kecemasan tingkat tinggi juga berpotensi memicu keluhan pencernaan. Profesor Giovanni Leonetti, dosen Gastroenterologi di UniCamillus, menerangkan bahwa stres dan kecemasan memengaruhi mekanisme produksi cairan pencernaan serta sistem perlindungan lapisan lambung.
"Stress-induced gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung yang disebabkan oleh stres dan kecemasan," ujar Leonetti.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat muncul sewaktu seseorang menghadapi beban pekerjaan, perubahan gaya hidup, periode belajar yang padat, hingga konflik emosional, keluarga, maupun masalah kesehatan.
"Ketika stres dan kecemasan menjadi sangat tinggi, produksi cairan pencernaan yang bersifat asam meningkat, sementara lendir dan prostaglandin yang melindungi lapisan lambung menurun," katanya.
Masalah ini umumnya tidak tergolong berbahaya, namun rasa tidak nyaman yang ditimbulkan dapat mengganggu kualitas hidup harian.
Bedakan sakit perut, heartburn, dan kembung
Bentuk keluhan pada sistem pencernaan sangat beragam, sehingga penting untuk memahami bedanya. Sakit perut bisa terasa seperti nyeri menusuk, kram, atau rasa berat, yang penyebabnya tidak selalu berpusat di lambung.
Sementara itu, heartburn ditandai dengan rasa terbakar di perut bagian atas yang acap kali disertai sendawa serta regurgitasi. Regurgitasi merupakan kondisi saat cairan atau makanan dari lambung naik kembali menuju kerongkongan hingga mulut.
Kondisi tersebut kerap meninggalkan sensasi terbakar pada tenggorokan serta rasa pahit di mulut. Di sisi lain, kembung ditandai dengan perut membesar atau terasa penuh yang sesekali disertai nyeri.
Rasa penuh seusai makan biasanya akan mereda seiring berjalannya proses pencernaan. Namun, jika kembung disertai nyeri menetap yang kian parah, pemeriksaan medis sangat diperlukan untuk mendeteksi penyebab pastinya.
Stres kronis bisa memengaruhi saluran cerna
Dampak gangguan pencernaan akibat stres tidak hanya terbatas pada lambung. Stres kronis turut memengaruhi kerja sistem saraf otonom yang bertugas mengontrol fungsi tubuh, termasuk saluran cerna.
Leonetti menyebutkan bahwa paparan stres jangka panjang dapat meningkatkan sensitivitas sistem saraf simpatis, yang kemudian memicu serangkaian gejala pada area lambung dan usus.
Hal inilah yang membuat orang yang sedang mengalami tekanan psikologis dapat mengalami perubahan pola buang air besar, sakit perut, kembung, maupun gangguan pencernaan lainnya.
Kendati demikian, keluhan lambung yang timbul berulang tidak boleh serta-merta dianggap cuma karena stres. Banyak jenis penyakit pencernaan memiliki gejala serupa sehingga membutuhkan diagnosis yang tepat.
Leonetti mengingatkan bahwa gastritis yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu komplikasi serius, seperti refluks gastroesofagus, tukak lambung, pendarahan lambung, hingga masalah penyerapan zat besi serta vitamin B12.
Oleh karena itu, keluhan yang terus berulang atau bertambah parah sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.
Cara mencegah gangguan lambung akibat stres
Manajemen stres menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan organ pencernaan. Selain mengelola emosi, penerapan pola makan dan gaya hidup sehat juga wajib diperhatikan.
Leonetti menyarankan untuk mengonsumsi makanan dalam porsi kecil namun sering, serta mengunyah makanan hingga halus untuk meringankan kerja sistem pencernaan.
Olahraga ringan atau aktivitas relaksasi seperti yoga juga bisa membantu mengendalikan tingkat stres. Dari segi asupan, hindari makanan berlemak, gorengan, makanan yang terlalu berbumbu, minuman berkarbonasi, serta konsumsi kopi dan teh berlebih.
Mengingat pemicu tiap orang berbeda, penting untuk mengenali jenis makanan atau minuman yang memicu munculnya gejala.
Hindari pula kebiasaan melewatkan sarapan atau membiarkan perut kosong terlalu lama. Makanlah secara perlahan dan jangan langsung berbaring seusai makan guna mencegah timbulnya refluks.
Langkah membatasi rokok dan alkohol juga sangat disarankan untuk mencegah iritasi saluran cerna. Jika diperlukan, dokter dapat meresepkan obat pereda gejala seperti antasida atau penekan asam lambung sesuai indikasi medis.