JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mengokohkan jalinan sinergi bersama para pelaku industri guna mendongkrak ekosistem seni pertunjukan agar bertransformasi bukan sekadar sebagai medium ekspresi kultural, melainkan turut berdaya cipta dalam mendulang nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengutarakan bahwa kerja sama lintas subsektor, termasuk menggandeng perusahaan produksi (production house/PH), mutlak diperlukan demi merumuskan format model bisnis yang mampu memacu pertumbuhan ekosistem kreatif secara efisien dan konsisten.
"Kami perlu mencari titik temu yang memungkinkan ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan. Bukan hanya membangun potensi yang sudah tercipta, tetapi juga memastikan model bisnis kreatif bisa berjalan," kata Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan pandangannya, bidang seni pertunjukan serta industri perfilman memiliki keterhubungan ekosistem yang saling menopang satu sama lain. Seni pertunjukan dapat difungsikan sebagai wadah inkubasi talenta sekaligus lumbung penciptaan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang nantinya dieksplorasi ke dalam medium lain, termasuk layar lebar.
"Dengan begitu, kami tak sekadar meningkatkan budaya publik untuk nonton teater di gedung seni pertunjukan maupun nonton film di ruang putar, tetapi juga memberikan soft landing bagi investor untuk masuk ke subsektor seni pertunjukan dan subsektor film," ujarnya.
Langkah kolaborasi strategis tersebut dijalin Kemenekraf bersama Keana Film yang selama ini aktif berkecimpung di ranah seni pertunjukan serta perfilman. Salah satu aset potensi yang tengah digarap adalah kekayaan intelektual IP Laksamana Malahayati, di mana karya tersebut direncanakan bermetamorfosis dari pementasan panggung menuju format komik serta film bioskop lewat skema kolaborasi berskala internasional.
Irene memandang bahwa pengembangan IP lintas medium semacam ini terbukti efektif memperpanjang siklus nilai ekonomi suatu karya sekaligus membuka keran penetrasi pasar yang jauh lebih luas bagi para pegiat ekonomi kreatif.
"Seni pertunjukan dan film sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Subsektor seni pertunjukan bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penciptaan IP, pengembangan talenta, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pejuang ekraf," katanya.
Di samping penggarapan IP, Kemenekraf turut memacu optimalisasi adopsi teknologi serta penguatan sistem distribusi dalam rantai ekosistem kreatif. Salah satu instrumen yang didorong meliputi implementasi konsep Indiskop Bioskop Rakyat yang mengintegrasikan pilar perfilman, seni pertunjukan, kebudayaan, serta sektor pendidikan.
Menurut Irene, penerapan digitalisasi distribusi, sistem tiket terpadu, serta manajemen operasional tersentralisasi diyakini mampu menekan beban biaya operasional sekaligus memperluas jangkauan sebaran karya kreatif ke berbagai daerah di Tanah Air.
Direktur Utama Keana Film Marcella Zalianty memaparkan bahwa pihaknya kini memusatkan orientasi bisnis pada pengembangan dua pilar spektrum ekonomi kreatif, yakni seni pertunjukan dan perfilman.
Ia menilai bahwa eksplorasi IP lintas medium menjadi salah satu strategi ampuh guna mendongkrak daya saing karya lokal agar mampu menembus pasar global.
"Keana Film bisa menjadikan suatu IP lokal go global karena konten yang universal dan pantas membawa identitas Indonesia mendunia," tutur Marcella.
Di sisi lain, Keana Film telah merancang sejumlah agenda pagelaran seni serta kebudayaan sepanjang kurun waktu 2026–2027, di antaranya meliputi pementasan Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, hingga perhelatan CULTURA Festival di Taman Mini Indonesia Indah yang sekaligus diselaraskan untuk menggerakkan pemberdayaan UMKM lokal.
Irene menegaskan bahwa esensi penguatan ekosistem seni pertunjukan pada akhirnya bermuara pada upaya memastikan agar sebuah karya tidak berhenti pada satu momen pementasan saja, melainkan mampu berkembang biak menjadi aset IP bernilai ekonomi tinggi serta menjangkau segmen pasar yang lebih masif.
Lewat integrasi holistik antara seni pertunjukan, film, pengembangan IP, talenta kreatif, adopsi teknologi, hingga jaringan distribusi, pihak Kemenekraf menaruh harapan besar terbentuknya rantai pasok industri kreatif yang kian tangguh dan berkelanjutan, serta membuka lebar pintu penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha bagi para pelaku ekraf.