Lewat Modifikasi Cuaca BMKG Target Kurangi Debu Vulkanik Anak Krakatau

Lewat Modifikasi Cuaca BMKG Target Kurangi Debu Vulkanik Anak Krakatau
Ilustrasi Debu Vulkanik Anak Krakatau.

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menargetkan penanganan debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dapat diredam dalam kurun satu hingga dua hari melalui operasi modifikasi cuaca dari berbagai wilayah.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa operasi tersebut menerapkan dua metode yang diselaraskan dengan kondisi awan di atmosfer demi mempercepat penurunan debu vulkanik.

“Dengan adanya dua metode ini, harapannya dalam 1-2 hari ke depan, ini soal debu vulkanik Gunung Anak Krakatau bisa kami selesaikan dengan catatan tidak ada letusan-letusan baru yang menyemprotkan,” kata Seto usai konferensi pers rapat koordinasi di Jakarta, Senin.

Ia memaparkan bahwa skema pertama diterapkan ketika atmosfer belum tertutup awan. Armada pesawat bakal menyemprotkan bahan khusus ke udara untuk mempercepat jatuhnya partikel debu vulkanik.

“Kalau tidak ada awan, pesawat ini akan menyemprot. Dia membuat bahan spray di atmosfer atau udara, supaya debu vulkaniknya menurun,” ujar dia.

Bahan yang disemprotkan berupa ramuan air yang dikombinasikan dengan surfaktan. Menurut Seto, surfaktan berguna sebagai zat pengikat debu agar partikel vulkanik dapat jatuh lebih cepat ke permukaan.

“Karena yang kami semprotkan ini adalah air plus surfaktan. Jadi adalah wadah tertentu yang mampu mengikat debu, sehingga dia akan jatuh,” kata dia.

Di sisi lain, apabila terdapat pertumbuhan awan, teknik modifikasi cuaca akan memanfaatkan bahan semai awan guna memicu terjadinya hujan.

“Nah, nanti kalau sudah ada awan tumbuh, bahannya kami ganti menjadi air, tapi kami campur dengan bahan semai. Dia akan mengaktivasi awan jadi menjatuh,” ujar dia.

Pelaksanaan operasi ini turut diarahkan untuk menekan dampak sebaran debu vulkanik ke area permukiman yang terdampak, termasuk wilayah Jakarta.

Seto menerangkan bahwa penyemaian tidak dijalankan langsung dari Jakarta, melainkan melintasi posko di Semarang serta Kertajati menggunakan dukungan pesawat yang didatangkan dari Kalimantan.

“Kami datangkan pesawat dari Kalimantan, kami datangkan pesawat ke Semarang,” kata dia.

“Dari posko, Semarang, dan Kertajati,” ujar dia menambahkan.

Seto menekankan bahwa keberhasilan operasi sangat bergantung pada intensitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Jika timbul letusan susulan yang menyemburkan material baru, proses meredam debu akan menghadapi hambatan tambahan.

Di samping penanggulangan debu vulkanik, Seto menyebutkan bahwa dampak kekeringan akibat El Nino saat ini masih berada pada fase amat kuat yang beriringan dengan musim kemarau.

Menurut kalkulasinya, fenomena kekeringan ini diprediksi mulai melandai pada Oktober mendatang seiring datangnya musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

“Jadi paling berat memang sampai dengan akhir September. Kemudian perlahan-lahan eskalasi ini akan melemah dimulai dengan bulan Oktober,” ujar dia.

Ia menambahkan bahwa memasuki bulan November, periode musim kemarau diperkirakan mulai berakhir sehingga permasalahan kekeringan ekstrem dapat perlahan teratasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index