Optimalkan Kecerdasan Anak Lewat 3 Kebiasaan Harian Sederhana Ini

Optimalkan Kecerdasan Anak Lewat 3 Kebiasaan Harian Sederhana Ini
Ilustrasi orangtua dan anak menulis [FOTO: NET].

JAKARTA - Upaya mengoptimalkan potensi tumbuh kembang si kecil sering kali membuat para orang tua sibuk memburu bermacam metode pengajaran modern. Padahal, rahasia utama dalam menyokong kecerdasan serta kesiapan belajar anak sejatinya tersimpan dalam rutinitas harian di rumah. 

Kebiasaan sederhana yang tampak sepele justru memegang peranan krusial bagi fondasi biologis dan kognitif si kecil.

Medical and Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menerangkan, bahwa terdapat beberapa rutinitas penting yang tanpa disadari kerap terabaikan, padahal memberi dampak besar bagi daya konsentrasi dan kemampuan belajar anak di sekolah.

Apa saja? Berikut ulasannya saat ditemui pada acara talkshow Bebelac berkonsep "Growing Little Minds: The Science Behind Every Child's Potential" di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Kebiasaan harian sederhana yang menentukan potensi anak

1. Rutinitas makan bersama satu meja

Proses pembelajaran anak tak melulu berlangsung di ruang kelas atau saat memegang buku bacaan. Kegiatan harian yang paling mendasar layaknya bersantap bersama keluarga rupanya menyimpan daya dorong luar biasa bagi perkembangan perilaku dan mental anak.

Melalui agenda makan bersama, anak dapat mengamati sekaligus meniru pola interaksi sosial secara langsung.

"Makan itu adalah perilaku primitif. Jadi, 80 persen tumbuh kembang anak bisa disimulasi lewat proses makan bersama," ujar dr. Ray.

Sayangnya, rutinitas ini kian tergerus oleh padatnya aktivitas orang tua modern atau kebiasaan menyodorkan gawai supaya anak tenang saat menyantap makanan. Padahal, berbagi hidangan dan duduk satu meja bersama anggota keluarga membuka ruang komunikasi yang hangat sekaligus melatih fokus anak tanpa gangguan perangkat digital.

Momfluencer @Janelleandmom, Cynthia, turut menerapkan pola komunikasi terbuka di meja makan dengan mengenalkan variasi gizi seimbang secara bijak tanpa menerapkan larangan kaku.

"Kalau aku itu dari dulu tidak pernah mengategorikan makanan baik dan makanan buruk, tapi (mengatakan) beberapa makanan punya gizi lebih kecil dibanding makanan yang lain," tutur Cynthia.

2. Memenuhi kebutuhan serat harian anak

Di samping tradisi sosial di meja makan, pemenuhan nutrisi khusus bagi organ pencernaan turut memegang peranan penting. Banyak orang tua terfokus pada pembatasan karbohidrat atau penambahan porsi protein, namun mengacuhkan asupan serat yang amat dibutuhkan oleh ekosistem mikrobiota usus.

"Asupan serat ini yang paling banyak dikesampingkan orangtua, bahkan data penelitian di Indonesia itu lebih dari 50 persen anak Indonesia asupan seratnya kurang," papar dr. Ray.

Defisit asupan serat sanggup memicu gangguan pada saluran cerna yang berdampak langsung pada merosotnya daya konsentrasi hingga penurunan kapasitas kognitif.

Guna menutupi celah gizi dari sajian makanan keluarga sehari-hari, orang tua dapat memanfaatkan produk nutrisi fortifikasi yang dibekali kandungan prebiotik seperti FOS, GOS, dan Inulin. Dokter Ray memaparkan, perpaduan serat pangan ini membantu menjaga kesehatan saluran cerna agar penyerapan nutrisi berjalan maksimal.

"Asupan nutrisi yang mengandung prebiotik dan serat pangan, seperti FOS, GOS, dan Inulin dapat mendukung kesehatan saluran cerna dan microbial diversity," ucapnya.

3. Menjaga kedisiplinan waktu tidur malam

Kebiasaan harian terakhir yang tak kalah penting yakni kedisiplinan waktu istirahat malam. Sebagian orang tua beranggapan bahwa stimulasi penuh dan asupan nutrisi berkualitas sudah memadai untuk membentuk anak pintar, sehingga jam istirahat malam gampang terabaikan.

Padahal, tidur malam merupakan momentum biologis yang tak tergantikan bagi proses regenerasi sel serta pemulihan kondisi tubuh.

"Tidur itu satu-satunya saat di mana tubuh menghasilkan growth hormone dalam jumlah banyak," jelas dr. Ray.

Selain memantik produksi hormon pertumbuhan untuk perkembangan fisik dan struktur tulang, kecukupan istirahat malam juga berfungsi menetralkan hormon stres yang didapat anak sepanjang hari. Proses penyerapan mikronutrien penting layaknya kalsium dan vitamin pun melonjak drastis tatkala anak tertidur terlelap.

"Tidur adalah satu-satunya saat di mana tubuh merilis hormon-hormon stres yang diperoleh anak pada waktu berantem sama teman waktu bermain atau saat tantrum," ungkap dr. Ray.

Lewat keselarasan antara kebiasaan makan bersama, pemenuhan serat pencernaan, dan kedisiplinan jadwal tidur, orang tua sanggup membangun fondasi kokoh agar anak siap belajar dan berkembang secara optimal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index