Hilirisasi Minerba Butuh 3 Juta Tenaga Kerja, Kampus Diminta Siapkan Lulusan Andal

Hilirisasi Minerba Butuh 3 Juta Tenaga Kerja, Kampus Diminta Siapkan Lulusan Andal

BULETINENERGI.COM — Industri mineral dan batubara (minerba) Indonesia tengah berada di persimpangan besar. Sektor yang pada 2026 menyumbang sekitar 8,8 persen terhadap ekonomi nasional ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan produksi dan ekspor bahan mentah. Transformasi menuju hilirisasi, digitalisasi, dan praktik berkelanjutan menuntut ulang tenaga kerja dengan kompetensi yang jauh lebih beragam.

Hal ini menjadi benang merah dalam Seminar Nasional "Mempersiapkan SDM Unggul, Inovatif, dan Produktif untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045" yang digelar Alumni Angkatan 1976 UPN Veteran Yogyakarta bersama Majalah TAMBANG di Sleman, Senin (22/8/2026).

Kontribusi Besar Minerba dan Tantangan yang Menyertainya

Data yang disampaikan Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Mohamad Irhas Effendi, menunjukkan betapa strategisnya sektor ini. Hingga akhir 2025, kontribusi sektor sumber daya alam terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp248,8 triliun. Dari jumlah itu, minerba menyumbang sekitar Rp138 triliun, melampaui migas yang sekitar Rp105 triliun.

Namun, Irhas mengingatkan bahwa keberhasilan tidak bisa diukur dari angka produksi semata. "Ukuran lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan sektor ini menciptakan nilai tambah yang tinggal di Indonesia," ujarnya. Ia menyebut ada empat tantangan utama yang harus dijawab industri: hilirisasi, keberlanjutan, digitalisasi, dan tata kelola.

Hilirisasi menuntut industri bergerak dari ekspor bahan mentah menuju produksi komponen dan material maju. Adapun keberlanjutan mengharuskan pengelolaan lingkungan, reklamasi pascatambang, hingga efisiensi energi diperkuat. Di sisi lain, digitalisasi mendorong pemanfaatan otomatisasi, kecerdasan artifisial, dan analitik data dalam operasi pertambangan.

Transisi Energi Justru Membuka Peluang Baru

Alih-alih mengurangi peran mineral, transisi energi disebut akan meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai mineral kritis. "Justru meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai mineral kritis untuk panel surya, jaringan listrik, baterai, kendaraan listrik, dan teknologi energi masa depan," kata Irhas.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, memberikan gambaran skala industri yang dihadapi. Sepanjang 2025, produksi batubara nasional mencapai sekitar 817 juta ton, dengan 522 juta ton atau 63,89 persen di antaranya diekspor. Angka ini menunjukkan besarnya peluang untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Dampak hilirisasi sebenarnya sudah mulai terlihat. Nilai ekspor nikel dan turunannya melonjak dari sekitar US$3,3 miliar pada 2017 menjadi US$33,9 miliar pada 2024. Pemerintah memproyeksikan program ini hingga 2040 akan menarik investasi US$618 miliar dan membuka 3 juta lapangan kerja baru.

Perguruan Tinggi Kunci Siapkan Talenta Masa Depan

Tri Winarno menegaskan bahwa lapangan pekerjaan yang tercipta harus diisi oleh tenaga kerja Indonesia. "Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan mengisi lapangan pekerjaan tersebut? Jawabannya adalah SDM Indonesia," tegasnya. Ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak hanya menyiapkan diri mencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan solusi dan inovasi.

"Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan negara," pungkasnya.

Menjawab tantangan itu, UPN Veteran Yogyakarta mendorong penguatan link and match dengan industri melalui pembelajaran berbasis industri, riset kolaboratif, dan ekosistem talenta. Tujuannya mencetak lulusan yang unggul, inovatif, produktif, adaptif, dan berintegritas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index