Studi Terbaru Ungkap Fungsi Otak Manusia Dapat Meningkat di Segala Usia

Studi Terbaru Ungkap Fungsi Otak Manusia Dapat Meningkat di Segala Usia
Ilustrasi Lansia.

JAKARTA - Anggapan bahwa penuaan selalu beriringan dengan rambut memutih, rasa nyeri pada sendi, serta penurunan ketajaman berpikir sudah lama dipercayai masyarakat luas. Kemunduran daya kognitif seolah menjadi hal lazim saat umur bertambah.

Meski demikian, riset selama tiga tahun yang melibatkan 4.000 peserta berusia 19 hingga 94 tahun berhasil membantah pandangan tersebut.

Mengutip Real Simple, riset ini membuktikan bahwa kualitas otak—mulai dari kejelasan berpikir, stabilitas emosi, hingga kemampuan berinteraksi—dapat ditingkatkan kapan saja. Cukup melatih otak beberapa menit sehari, manfaat kognitif yang nyata sudah bisa diperoleh.

“Semua kelompok usia menunjukkan peningkatan, yang menantang gagasan bahwa kognitif menurun pada usia tertentu," kata neurolog di Kaiser Permanente di Maryland, Ejaz Shamim, MD.

"Bahkan mereka dengan skor awal rendah menunjukkan perbaikan, menggambarkan otak tetap mudah beradaptasi sepanjang hidup," tambah dia.

Studi bertajuk "Measuring and increasing the brain health span across adulthood: a public health imperative" yang terbit di Scientific Reports menggunakan data The BrainHealth Project (BHP). Program buatan Center for BrainHealth (CBH) di University of Texas at Dallas ini berfokus memetakan cara mengoptimalkan performa pikiran.

Bertambahnya umur tidak serta-merta membuat seseorang kehilangan ketajaman berpikir, sebab daya kognitif memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Peserta yang rutin menjalankan latihan harian menunjukkan peningkatan fokus, ingatan, daya tahan kognitif, serta perhatian.

“Studi ini menantang gagasan bahwa penurunan kognitif adalah bagian penuaan yang tak terhindari," ucap Sharon Brangman, M.D., dokter spesialis geriatri sekaligus pengurus McKnight Brain Research Foundation.

"Ini menunjukkan, seseorang berpotensi mempertahankan kesehatan otaknya dengan mempraktikkan kebiasaan sehat dan intervensi berbasis teknologi yang terukur," lanjutnya.

Stacey Vernon, MS, LPC, selaku Kepala Asesmen Dewasa di Center for BrainHealth, University of Texas at Dallas, meluruskan kekeliruan pandangan terdahulu. Ia mencatat bahwa partisipan dengan skor awal paling rendah justru mengandaskan anggapan lama lewat lonjakan pertumbuhan tertinggi.

“Kami melihat efek pemulihan saat terjadi penurunan. Pada akhirnya, penerapan kebiasaan sehat bagi otak yang konsisten adalah hal yang paling erat kaitannya dengan kesuksesan," kata dia.

"Peserta yang mengikuti pelatihan mikro harian selama 5-15 menit dan secara sadar membangun kebiasaan spesifik, mencapai hasil terukur yang lebih tinggi,” imbuh Vernon.

Otak pada dasarnya merupakan organ dinamis yang terus dibentuk oleh aktivitas sehari-hari. Lewat konsep neuroplastisitas, terbukti bahwa pembentukan sel-sel saraf baru terus berlangsung bahkan hingga tahap dewasa.

Pakar saraf sekaligus asisten profesor departemen psikiatri University of California San Diego, Carolina Makowski, PhD, menegaskan neuroplastisitas tidak memiliki batasan usia. Hal ini berdampak langsung pada kemampuan seseorang dalam menyerap informasi maupun keahlian baru di umur berapa pun.

"The BrainHealth Project memanfaatkan neuroplastisitas yang sudah diketahui ini untuk menunjukkan bahwa peningkatan kesehatan otak yang terukur bisa dicapai dalam periode waktu yang relatif singkat pada hampir semua orang," papar Makowski.

Selain itu, organ otak sanggup melakukan penataan ulang secara mandiri untuk merangkai koneksi saraf baru.

"Misalnya, pasien stroke yang kehilangan kemampuan bicara bisa menggunakan bagian otaknya yang sehat untuk mempelajari kembali bahasa, memperlihatkan kemampuan adaptasi jalur saraf," jelas dr. Shamim.

"Studi ini melengkapi pemahaman tersebut, menunjukkan peningkatan berpikir, bersosialisasi, dan kesejahteraan emosional bertahan selama tiga tahun pada berbagai usia," tutur dia.

Walaupun performa pemrosesan bawaan cenderung melambat seiring usia, kemampuan lain rupanya tidak terpengaruh. Bernadette Boden-Albala, DrPH, Dekan Pendiri UC Irvine Joe C. Wen School of Population & Public Health, memaparkan bahwa kemampuan bernalar, wawasan umum, hingga kontrol emosi justru tetap konsisten atau makin terasah seiring bertambahnya pengalaman.

“Sama seperti otot membutuhkan aktivitas menantang dan istirahat usai olahraga keras agar performanya optimal, otak kami juga butuh porsi perawatan serupa. Kesehatan otak menuntut keseimbangan stimulasi dan istirahat agar berfungsi maksimal,” tutur Makowski.

Keseimbangan tersebut dapat dicapai melalui keberanian menghadapi tantangan baru—seperti menyelesaikan masalah, mengeksplorasi lingkungan, hingga berinteraksi sosial—sambil tetap menjaga kualitas tidur di tengah kesibukan.

“Ini adalah kebiasaan seumur hidup yang butuh perhatian aktif. Meski memprioritaskan kesehatan otak mungkin terasa lebih sulit seiring bertambahnya usia, hasil akhirnya akan jauh lebih besar,” jelasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index