Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal II/2026 Cetak Rekor

Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal II/2026 Cetak Rekor
Karyawan melintas di gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa defisit transaksi berjalan menembus US$12,5 miliar dolar atau setara 3,3% dari produk domestik bruto (PDB), membengkak ketimbang defisit pada kuartal sebelumnya yang sebesar US$3,6 miliar atau setara 1% dari PDB.

Bahkan jika dirunut data historis lebih jauh, nominal defisit transaksi berjalan senilai US$12,5 miliar tersebut menjadi yang paling dalam sepanjang sejarah atau setidaknya dalam publikasi BI.

Adapun data dinamika transaksi berjalan dirilis BI dalam laporan Neraca Pembayaran Indonesia per kuartal. Laporan tersebut pertama kali menerbitkan data transaksi berjalan periode kuartal I/2004 atau 22 tahun silam. Sejak momen itu, defisit transaksi berjalan Indonesia tak pernah melewati US$12,5 miliar—angka paling mendekati yaitu US$10,1 miliar pada kuartal II/2013.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso memaparkan pelebaran transaksi berjalan dipengaruhi oleh beberapa pemicu yang diproyeksikan bersifat sementara.

"Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas," ujar Denny dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Dia merinci, defisit neraca perdagangan migas terangkat imbas kenaikan impor minyak sejalan dengan melambungnya harga minyak dunia. Surplus neraca perdagangan nonmigas turut tercatat lebih rendah akibat terdorong kenaikan impor nonmigas demi memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.

Di samping itu, defisit neraca pendapatan primer membengkak sejalan dengan pembayaran pendapatan primer, sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder cenderung stabil dibanding capaian pada kuartal I/2026.

Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial membukukan surplus sebesar US$12 miliar pada kuartal II/2026, usai pada periode sebelumnya menanggung defisit sebesar US$4,8 miliar. Dinamika tersebut dipengaruhi oleh tingginya aliran masuk investasi langsung beserta investasi portofolio.

Defisit Neraca Pembayaran Membaik

Dinamika transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial itu pada akhirnya bermuara pada neraca pembayaran Indonesia. BI mencatat neraca pembayaran Indonesia defisit US$0,9 miliar pada kuartal II/2026, membaik ketimbang defisit periode sebelumnya yang menyentuh US$9,1 miliar.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa tercatat pada angka US$145,6 miliar pada kuartal II/2026 atau setara pembiayaan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Bank sentral menerangkan posisi cadangan devisa itu bertengger di atas standar kecukupan internasional berkisar 3 bulan impor.

BI pun meyakini neraca pembayaran sanggup menopang ketahanan eksternal. Alasannya, defisit transaksi berjalan diproyeksikan lebih rendah disokong perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global.

Transaksi modal dan finansial juga diperkirakan tetap surplus disokong imbal hasil instrumen keuangan domestik yang memikat serta prospek ekonomi Indonesia, sehingga diharapkan konsisten menarik aliran modal asing masuk ke Tanah Air.

"Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI [neraca pembayaran Indonesia] 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," tutup Denny.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index