JAKARTA - iPhone berkemampuan layar lipat menjadi salah satu gawai yang paling ditunggu-tunggu pada tahun ini. Meskipun begitu, para pencinta produk Apple di berbagai penjuru dunia nampaknya bakal gigit jari lantaran unit tersebut semula hanya dijual di Amerika Serikat pasca peluncurannya.
Berdasarkan warta dari media teknologi Australia, ChannelNews, gawai lipat ini berpeluang digelontorkan secara bertahap ke beberapa wilayah dalam kurun beberapa bulan, dengan kuota awal yang terbatas khusus untuk kawasan AS.
ChannelNews menyebutkan telah memperoleh bocoran dari pihak penyedia layanan seluler setempat beserta jaringan toko ritel raksasa bahwa Apple bakal memamerkan iPhone lipat perdana tersebut berdampingan dengan lini iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max pada bulan September mendatang.
Akan tetapi, tatkala sesi penjualan perdana dibuka pada bulan yang sama, para pembeli di mayoritas wilayah belum dapat memesan gawai lipat ini bersamaan dengan seri iPhone 18 Pro.
Gawai yang disinyalir mengusung nama iPhone Ultra itu bakal dipasarkan di AS terlebih dahulu, disusul oleh negara-negara kunci lainnya, termasuk China, dalam jangka waktu dua hingga tiga bulan kemudian, sebagaimana dikutip dari MacRumors, Minggu (16/8/2026).
Pola peluncuran bergilir ini dipicu oleh terbatasnya ketersediaan stok serta kendala dalam penentuan harga jual. Informasi dari ChannelNews juga menyebutkan bahwa pihak Apple sedang menghadapi kendala pengujian pada jajaran unit produksi yang telah dirakit.
Pengamat gadget Ming-Chi Kuo sebelumnya sempat menyampaikan bahwa Apple bakal memperkenalkan gawai lipat perdananya bersamaan dengan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, tetapi kran pemesanan awal bagi iPhone Ultra baru dibuka di kemudian hari.
Bila kabar ini akurat, langkah ini bukanlah kali pertama bagi Apple merilis gawai terbarunya secara bertahap. Ketika mendistribusikan perangkat pemindai Headset Vision Pro pada Februari 2024, unit tersebut pada awalnya juga hanya bisa dibeli di AS.
Baru pada Juni 2024, gawai pemindai tersebut mulai diedarkan di China, Hong Kong, Jepang, dan Singapura, kemudian dilanjutkan ke kawasan Australia, Kanada, Prancis, Jerman, serta Inggris pada bulan Juli berikutnya.