JAKARTA - Pesatnya transformasi teknologi pada ranah kendaraan menuntut sektor industri transportasi tidak sekadar fokus mematangkan lini produk serta sarana pendukung, melainkan juga menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang sanggup beradaptasi melalui jalur pendidikan.
Sales & After Sales Director HMSI, Susilo Darmawan menyampaikan bahwa forum diskusi bertema “Membangun Generasi Vokasi Unggul untuk Industri Transportasi Indonesia Masa Depan” menjadi elemen vital demi menjaga keberlangsungan industri kendaraan niaga di Tanah Air.
"Bagi Hino, mendukung dunia pendidikan merupakan bagian dari kontribusi kami untuk Indonesia. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, kami ingin membantu mencetak lulusan yang siap bekerja dan menjawab kebutuhan industri," kata Susilo Darmawan dalam keterangan resminya, Senin.
Agenda diskusi yang menghadirkan unsur pemerintah, kalangan industri, hingga jejaring dealer tersebut menyoroti urgensi penyelarasan standar kompetensi para lulusan sekolah kejuruan agar seirama dengan kebutuhan pasar kerja, utamanya di tengah kerumitan teknologi kendaraan saat ini.
Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kemendikdasmen Arie Wibowo Khurniawan menjelaskan bahwa pendidikan vokasi mesti memiliki keterikatan yang erat dengan dinamika industri supaya para lulusan tak cuma dibekali keahlian dasar, melainkan juga mumpuni dalam merespons perkembangan teknologi.
“Pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri,” ujar Arie.
Menurutnya, kemitraan erat antara institusi pendidikan dan sektor industri merupakan kunci utama dalam membentuk kompetensi para siswa.
Sinergi tersebut dapat direalisasikan lewat penyelarasan materi kurikulum, penggemblengan tenaga pengajar, program sertifikasi, hingga penyelenggaraan praktik kerja lapangan.
Pada ranah kendaraan niaga, pemenuhan kualifikasi SDM tak cuma berkutat pada penguasaan teknis kendaraan konvensional, melainkan mencakup pemahaman atas terobosan teknologi terkini yang diterapkan pada unit beserta sistem penunjangnya.
Guna menjembatani kebutuhan sekolah kejuruan dengan dunia kerja, HMSI menggalakkan program Hino Indonesia Partnership School (HIPS). Skema ini mencakup penyempurnaan kurikulum, pelatihan guru, penyediaan modul belajar, sertifikasi keahlian, hingga magang industri.
Di lain sisi, pembinaan kapasitas keahlian sejatinya tidak berhenti saat para siswa mengakhiri jenjang pendidikan formal.
Hadirnya Hino Indonesia Academy menjadi wadah pelatihan berkelanjutan bagi para mekanik, pengemudi, hingga tenaga ahli agar kecakapan mereka konsisten selaras dengan pembaruan teknologi otomotif.
Hino Academy & Customer Center Division Head HMSI Pieter Andre menilai, agenda pengembangan kualitas SDM sepatutnya ditempatkan sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi keberlanjutan industri transportasi.
“Melalui Hino Indonesia Academy dan kemitraan dengan sekolah vokasi, kami ingin memastikan lahirnya tenaga kerja yang tidak hanya memahami teknologi kendaraan, tetapi juga siap memberikan layanan terbaik kepada pelanggan," ujar Pieter Andre, Hino Academy & Customer Center Division Head HMSI.
Di samping itu, keberadaan jaringan dealer turut memegang peranan krusial dalam menghubungkan dunia pendidikan ke ranah profesional.
Selain difungsikan sebagai wadah praktik kerja industri, jaringan dealer sanggup menjadi sarana pengasahan keahlian sekaligus membuka pintu kesempatan karir bagi para lulusan vokasi.
Kolaborasi yang solid antara jajaran pemerintah, lembaga sekolah, pelaku industri, serta jaringan dealer menjadi hal krusial agar mata rantai penyiapan tenaga kerja tak terputus di bangku sekolah, melainkan berlanjut hingga ke dunia kerja.
Langkah terpadu ini diharapkan mampu mengantisipasi kebutuhan SDM di sektor transportasi seiring laju perubahan teknologi kendaraan yang kian dinamis.