JAKARTA - Tagihan listrik yang mendadak melambung tinggi terkadang membuat bingung para penghuni rumah. Padahal, intensitas pemakaian alat-alat elektronik di rumah terasa tidak ada bedanya dari hari-hari biasanya.
Kendati demikian, tanpa disadari, deretan kebiasaan harian dapat memicu tingkat konsumsi daya listrik menjadi jauh lebih besar. Contohnya mulai dari membiarkan kabel alat elektronik tetap mencolok di stopkontak hingga membiarkan AC menyala di ruangan tanpa orang.
Apabila terus dibiarkan, deretan kebiasaan buruk tersebut bakal membuat pemakaian energi di dalam rumah menjadi tidak efisien. Karena itu, mengidentifikasi kebiasaan penyebab pemborosan listrik menjadi tindakan sederhana untuk mengontrol pos pengeluaran bulanan.
Mengutip Beautynesia, berikut adalah rangkaian kebiasaan yang berpotensi membuat tagihan listrik rumah membengkak:
1. Membiarkan kabel tetap tertancap
Perilaku membiarkan pengisi daya, televisi, atau peralatan elektronik lainnya terus terhubung ke sumber listrik saat tidak dipakai tampak sepele. Kendati demikian, beberapa peralatan tetap menyedot aliran listrik ketika berada dalam moda siaga atau standby.
Fenomena tersebut populer dengan sebutan standby power atau vampire power. Meski sedotan daya dari satu alat terbilang kecil, penggunaan banyak perangkat secara serentak dan berkepanjangan akan menambah akumulasi konsumsi listrik rumah tangga.
Oleh sebab itu, mencabut steker peralatan maupun pengisi daya sesudah selesai digunakan merupakan langkah simpel untuk memangkas pemborosan energi yang sia-sia.
2. Menyalakan AC di ruangan kosong
AC termasuk peralatan rumah tangga yang mengonsumsi daya listrik sangat besar. Penggunaannya bakal berlipat ganda borosnya bilamana pendingin udara ini dibiarkan terus aktif di dalam ruangan yang tidak berpenghuni.
Pengaturan temperatur yang terlampau rendah turut memaksa AC bekerja ekstra keras untuk mencapai serta mempertahankan suhu dingin tersebut. Department of Energy Amerika Serikat menyarankan pengaturan suhu sedang demi menghemat pemakaian listrik.
Bila udara ruangan dirasa sudah cukup sejuk, setel suhu pada kisaran 24-26 derajat Celsius karena jauh lebih efisien dibanding pengaturan suhu terlalu dingin. Jadi, pastikan selalu mematikan AC tiap kali akan meninggalkan ruangan untuk rentang waktu lama.
3. Sering membuka-tutup pintu kulkas
Kulkas beroperasi penuh secara terus-menerus guna menjaga kesegaran bahan makanan. Oleh karena itu, perilaku sering membuka dan menutup pintu kulkas secara berulang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Setiap kali pintu terbelah, hawa dingin bakal keluar dan tergantikan oleh udara hangat dari luar. Kondisi ini memaksa mesin kulkas bekerja keras kembali demi menurunkan suhu di dalam kompartemen.
Department of Energy Amerika Serikat memberi saran agar pintu kulkas tidak dibiarkan menganga terlalu lama. Solusinya, ambillah beberapa keperluan bahan makanan sekaligus supaya pintu tidak perlu dibuka-tutup berulang kali.
4. Menyalakan lampu di siang hari
Lampu yang dibiarkan tetap menyala sewaktu ruangan kosong atau saat paparan sinar matahari sudah cukup terang menjadi pemicu pemborosan energi. Pemakaian satu titik lampu memang tidak langsung melejitkan total tagihan.
Akan tetapi, jika kebiasaan tersebut terus dibiarkan saban hari di banyak sudut ruangan, penumpukan konsumsi listrik tentu semakin tinggi. Maka dari itu, biasakan memadamkan lampu saat hendak keluar ruangan dan manfaatkan pencahayaan alami di siang hari.
5. Menyetrika pakaian sedikit demi sedikit
Setrika tergolong alat elektronik rumah tangga dengan daya konsumsi listrik tinggi. Salah satu perilaku yang memicu inefisiensi pemakaian adalah terlalu sering menyetrika busana dalam jumlah sedikit-sedikit.
Setiap kali dinyalakan, setrika memerlukan energi besar untuk memanaskan lempengan besinya hingga mencapai titik panas yang dibutuhkan. Jika aktivitas menyetrika dilakukan berkali-kali hanya untuk beberapa helai pakaian, penggunaan listrik menjadi sangat tidak efisien.
Merapikan pakaian sekaligus dalam satu sesi penyetrikaan massal merupakan langkah yang jauh lebih praktis. Di samping menghemat waktu, kebiasaan ini efektif menekan frekuensi penggunaan alat pemanas tersebut.
6. Membiarkan televisi menyala tanpa ditonton
Membiarkan layar televisi tetap menyala sekadar sebagai 'suara latar' tatkala sedang beraktivitas kerap dilakoni sebagian orang. Masalah utamanya, televisi terus menguras daya listrik sepanjang perangkat tersebut dalam posisi aktif.
Apabila dibiarkan berjam-jam setiap hari tanpa benar-benar disaksikan, konsumsi arus listrik bakal terus menyedot pengeluaran. Ketimbang membiarkannya menyala tanpa guna, segera matikan televisi saat tidak fokus ditonton.
7. Menggunakan mesin cuci saat muatannya terlalu sedikit
Menyalakan mesin cuci hanya untuk membersihkan selembar dua lembar pakaian mungkin terasa praktis, khususnya saat busana itu hendak mendesak dipakai. Namun, kebiasaan ini membuat pemakaian mesin cuci menjadi sangat boros.
Tiap siklus pencucian menguras energi untuk menggerakkan mesin, serta menghabiskan air dan proses tambahan lainnya bergantung program yang dipilih. Kebutuhan daya tersebut tetap berjalan penuh meski pakaian yang dicuci amat sedikit.
Maka dari itu, kumpulkan dahulu muatan pakaian hingga cukup sebelum memutar mesin cuci. Tetap cermati batas kapasitas maksimal mesin dan jangan memuatnya secara berlebihan agar kinerja pencucian tetap maksimal.
Mengaplikasikan pemakaian alat elektronik secara lebih cermat tidak selalu menuntut perubahan drastis. Memadamkan alat yang tak terpakai, mencabut steker, mengontrol pemakaian AC, hingga menanti pakaian cuci menumpuk merupakan langkah simpel harian yang ber dampak besar.
Dengan memangkas pemakaian daya listrik yang tidak perlu, efisiensi energi di dalam rumah tangga dapat terwujud. Pada akhirnya, kebiasaan kecil ini dapat membantu menjaga keuangan keluarga agar tidak sampai membengkak.