Kebiasaan yang Bantu Menjaga Fungsi Otak Seiring Bertambahnya Usia

Sabtu, 12 September 2026 | 21:30:32 WIB
Ilustrasi lansia [FOTO: NET].

JAKARTA - Menjaga kesehatan otak menjadi semakin penting seiring bertambahnya usia. Penurunan fungsi kognitif dapat memengaruhi kemampuan mengingat, berpikir, hingga berkonsentrasi, serta meningkatkan risiko demensia pada masa mendatang.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa faktor kesehatan berkaitan dengan fungsi kognitif pada orang dewasa paruh baya dan lanjut usia. Dari berbagai indikator yang diteliti, aktivitas fisik dan kadar gula darah menjadi dua faktor yang paling kuat dikaitkan dengan kesehatan otak dalam jangka panjang.

1. Rutin beraktivitas fisik

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia melibatkan 402 orang dewasa paruh baya dan lansia yang belum mengalami penurunan kognitif saat penelitian dimulai.

Para peneliti mengevaluasi kesehatan jantung peserta melalui tujuh indikator dari American Heart Association, meliputi pola makan, aktivitas fisik, penggunaan tembakau, gula darah, tekanan darah, kolesterol total, dan indeks massa tubuh.

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang paling kuat berkaitan dengan fungsi kognitif. Pada peserta keturunan Meksiko-Amerika, tingkat aktivitas yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan kognitif yang lebih lambat.

Profesor dari Division of Psychiatry University College London, Gill Livingston, menjelaskan bahwa olahraga membantu meningkatkan aliran darah sekaligus pasokan oksigen ke otak.

“Berpikir membutuhkan bahan bakar, dan bahan bakar otak Anda adalah glukosa dan oksigen,” kata Livingston.

“Olahraga juga mengantarkan oksigen ke otak dan melindungi pembuluh darah,” lanjutnya.

Orang dewasa dianjurkan melakukan setidaknya 150 menit aktivitas intensitas sedang atau 75 menit aktivitas berat setiap pekan. Bagi yang belum terbiasa, berjalan kaki atau yoga dapat menjadi langkah awal sebelum meningkatkan intensitas latihan.

2. Menjaga kadar gula darah tetap sehat

Selain aktivitas fisik, kadar gula darah juga memiliki hubungan erat dengan fungsi kognitif. Pada peserta kulit putih non-Hispanik, gula darah yang terjaga dikaitkan dengan penurunan kemampuan berpikir yang lebih lambat.

Livingston menjelaskan bahwa kadar glukosa yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi sama-sama dapat berdampak buruk bagi otak.

“Jika glukosa Anda terlalu rendah, ada kemungkinan terjadi kerusakan pada sel saraf otak, dan jika glukosa terlalu tinggi, hal itu berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah sehingga lebih sedikit darah yang mengalir ke otak,” jelasnya.

Karena itu, pemeriksaan gula darah secara berkala menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi kesehatan. Tanda yang patut diwaspadai antara lain sering buang air kecil, mudah haus, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah tinggi atau diabetes, penanganan dapat dilakukan melalui perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, maupun terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

3. Mengontrol tekanan darah, kolesterol, dan berat badan

Meski penelitian menyoroti dua faktor utama, menjaga kesehatan otak tetap memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Profesor neurologi Mayo Clinic, David S. Knopman, menekankan pentingnya menjaga kesehatan pembuluh darah secara keseluruhan.

“Bukan hanya aktivitas fisik dan pengendalian gula darah pada usia paruh baya yang berkaitan dengan risiko demensia di kemudian hari,” kata Knopman.

“Keseluruhan ukuran kesehatan pembuluh darah mencakup mengendalikan tekanan darah tinggi dan kadar lemak darah yang tinggi, memiliki pola makan yang baik, menghindari rokok, serta menangani obesitas dan sleep apnea obstruktif,” lanjutnya.

Para peneliti juga mengingatkan bahwa studi ini hanya melibatkan peserta keturunan Meksiko-Amerika dan kulit putih non-Hispanik sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada seluruh populasi.

Meski demikian, menerapkan gaya hidup sehat sejak usia paruh baya dapat menjadi salah satu upaya penting untuk mendukung kesehatan jantung dan otak, meskipun tidak menjamin seseorang sepenuhnya terhindar dari penurunan kognitif atau demensia.

Terkini