53% Pelajar Indonesia Rutin Gunakan AI untuk Belajar Tiap Pekan

Jumat, 11 September 2026 | 21:14:32 WIB
Sekolah Rakyat Menengah Atas (SMRA) 10 , Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian melekat dalam aktivitas akademik pelajar di Tanah Air. Temuan Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mencatat sebesar 53% siswa Indonesia memanfaatkan chatbot AI untuk menunjang kegiatan belajar minimal sekali dalam sepekan. 

Capaian ini melampaui rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang berada di level 46%.

Penggunaan chatbot AI oleh para pelajar Indonesia melingkupi bermacam aktivitas pembelajaran. Sebanyak 39% siswa memakainya untuk meringkas teks, 32% guna pencarian riset awal, serta 30% untuk menyusun draf tugas menulis. 

Di samping itu, sekitar 29% siswa Indonesia mengandalkan chatbot AI demi memahami materi pelajaran, dan 25% memanfaatkannya untuk menggali ide atau inspirasi saat menyelesaikan tugas.

Studi PISA 2025 turut mendokumentasikan sebagian siswa menggunakan chatbot AI untuk mengoreksi maupun menyempurnakan hasil kerja mereka. Ada 24% siswa yang memanfaatkannya demi mengoreksi kesalahan pekerjaan, sementara 20% menggunakannya guna memperoleh koreksi serta masukan atas tugas yang dikerjakan.

Di lain sisi, cuma 7% siswa Indonesia yang mengaku hampir tidak pernah memakai chatbot AI dalam membantu belajar. Angka tersebut terbilang lebih rendah ketimbang rata-rata OECD yang menyentuh 13%.

AI untuk Belajar dan Mengerjakan Tugas

Pemanfaatan chatbot AI oleh siswa Indonesia tak sekadar berfokus pada penelusuran informasi, melainkan juga pengerjaan tugas-tugas sekolah. OECD menggarisbawahi bahwa chatbot AI dapat dipakai siswa untuk beragam tujuan, mulai dari memperoleh penjelasan atas konsep yang rumit, menjaring ide, meringkas data, hingga membantu merangkai tugas.

Meski demikian, penggunaan AI tidak otomatis menandakan siswa meraih kemanfaatan belajar secara maksimal. OECD menggarisbawahi krusialnya kecakapan siswa dalam mengoperasikan AI secara kritis serta memetakan keterbatasan teknologi tersebut. 

Dalam ranah pendidikan, penggunaan chatbot AI mesti dipilah antara benar-benar membantu proses belajar siswa atau sekadar memproduksi jawaban instan demi menuntaskan tugas.

Data PISA 2025 memperlihatkan bahwa masifnya adopsi AI di tingkat pelajar berlangsung berdampingan dengan kapasitas akademik yang masih menjadi tantangan bagi Indonesia. Pada bidang matematika, contohnya, baru 17% pelajar Indonesia yang sanggup menembus Level 2 atau lebih, yang merupakan batas kompetensi dasar dalam kerangka PISA. Angka ini tertinggal jauh dari rata-rata OECD yang sebesar 65%.

Sementara itu, untuk bidang sains, sebanyak 37% pelajar Indonesia berhasil mencapai Level 2 atau lebih, berbanding 74% pada rata-rata OECD. Pada kriteria membaca, porsinya berada di angka 27%, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69%.

Asesmen PISA 2025 sendiri mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam mengaplikasikan pengetahuan serta keterampilan guna merespons beragam tantangan kehidupan nyata. Pada penyelenggaraan edisi 2025, sains diposisikan sebagai fokus utama penilaian, sedangkan matematika dan membaca menjadi area pendukung.

Terkini