JAKARTA - Sektor usaha peternakan ayam petelur di wilayah Sumatera Selatan sedang berada dalam kepungan tekanan dari berbagai sisi operasional.
Selain maraknya peredaran telur berbanderol murah di platform digital, para peternak mesti menanggung pembengkakan biaya produksi akibat musim kemarau serta paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
Ketua Asosiasi Perunggasan Provinsi Sumatera Selatan Ismaidi menjelaskan bahwa rangkaian masalah tersebut mulai mengganggu stabilitas arus kas keuangan sejumlah pelaku usaha.
Bahkan, tekanan ekonomi yang terus menghimpit memicu sebagian peternak mulai memikirkan opsi untuk menjual fasilitas kandang mereka.
Titik krusial yang menyita perhatian yaitu obral telur lewat aplikasi belanja online yang mematok harga sangat rendah.
Pada beberapa program paket promosi, produk telur ditawarkan mulai dari range harga Rp2.500 hingga Rp7.500 per kilogram.
Ismaidi menegaskan nilai tersebut jauh merosot di bawah tingkat harga riil peternak yang berada di kisaran Rp25.740 per kilogram.
“Ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pengusaha telur. Masyarakat akhirnya meminta harga murah, sementara kami sebagai pengusaha menjual telur rata-rata Rp 25.740 per kilogram,” ujar Ismaidi.
Praktik obral tersebut dikhawatirkan membentuk opini publik bahwa telur bisa didapat dengan harga murah, padahal peternak memikul beban produksi yang tinggi.
Di lain sisi, total volume hasil panen telur di area Sumsel saat ini berada di kisaran 500 ton setiap harinya.
Sekitar 30 persen dari pasokan harian tersebut dialokasikan keluar wilayah provinsi, utamanya guna menyuplai kebutuhan di Pulau Jawa serta Bangka.
“Untuk kebutuhan telur di Sumatera Selatan, sekitar 30 persen produksi kami keluarkan keluar provinsi, seperti Jawa dan Bangka. Provinsi Sumsel sendiri rata-rata mencapai 500 tok per hari,” kata Ismaidi.
Beban peternak semakin bertambah akibat fenomena cuaca yang tidak menentu. Musim kemarau mendongkrak konsumsi air bersih sehingga memicu lonjakan pengeluaran operasional kandang.
“Cuaca juga sangat memengaruhi cash flow pengusaha telur. Karena kemarau, produksi telur bisa turun sekitar 5 sampai 10 persen,” jelas Ismaidi.
Bencana asap karhutla turut memperburuk kondisi peternakan. Paparan polusi udara menurunkan imunitas ayam sehingga peternak wajib merogoh kocek lebih untuk pengobatan, di tengah merosotnya laju produksi.
“Kalau asap berdampak terhadap kesehatan ayam, biaya pengobatan membengkak, produksi turun, sementara harga tidak sesuai. Kalau kondisi ini terus terjadi, peternak bisa banyak yang bangkrut,” terang Ismaidi.
Ismaidi menaruh harapan besar agar persoalan ini segera mendapat perhatian serius demi menjaga kelangsungan peternak yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.